Tampilkan postingan dengan label fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fotografi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juni 2010

Catatan Workshop Fotografi - Portfolio

Portfolio merupakan dokumentasi penting dari seorang fotografer. Penyusunan portfolio haruslah disesuaikan dengan keahlian atau spesialisasi yang dimiliki oleh fotografer. Beberapa contoh keahlian dan isi portfolio yang perlu ditampilkan:

Wedding/ portraiture
Portfolio dari seorang fotografer yang mengkhususkan diri pada wedding atau portrait haruslah menunjukkan segala aspek yang berkaitan dengan bidang yang ditekuninya, dari awal hingga akhir proses pernikahan. Portfolio seorang fotografer wedding merupakan yang paling banyak, detil & lengkap dari segi isinya. Termasuk di dalamnya:
  1. Dari segi proses, meliputi:
    • pre-wed
    • ritual pra pernikahan
    • akad nikah
    • resepsi
    • foto keluarga
    • acara lain yang ada dalam proses pernikahan
  2. Dari segi subyek foto, meliputi:
    • foto mempelai pria
    • foto mempelai wanita
    • foto mempelai pria & wanita
    • foto keluarga kedua mempelai
  3. Dari sudut pengambilan/ angle, meliputi:
    • Foto close up
    • Foto medium shot
    • Foto wide-angle
  4. Dari segi kostum, meliputi:
    • casual
    • kostum tradisional
    • kostum internasional/ Barat
  5. Dari segi lokasi, meliputi indoor maupun outdoor di:
    • rumah mempelai
    • rumah ibadah
    • gedung pertemuan
    • lokasi lain yang diperlukan
  6. Dari segi pencahayaan, meliputi:
    • foto pada cahaya pagi (morning light)
    • foto daylight
    • foto indoor dg available light
    • foto infoor dg studio light/ artificial
Yang perlu diperhatikan dalam penyusunan portfolio wedding adalah bahwa foto-foto mempelai pada dasarnya merupakan “milik” kedua mempelai. Oleh karena itu, penggunaan foto-foto wedding dalam sebuah portfolio haruslah dengan persetujuan dari kedua mempelai sebagai “pemilik” hak cipta. Mirip dengan model release yang harus ada untuk menggunakan foto seorang model.

Jurnalistik/ event
Portfolio yangharus dimiliki oleh seorang jurnalis foto sangat berbeda dengan apa yang ada dalam portfolio seorang wedding fotografer. Isi yang harus terdapat dalam portfolio seorang jurnalis foto, di antaranya:
  1. Portrait fotografi, biasanya diperlukan untuk foto tokoh, selebritis, nara sumber
  2. Human interest, manusia saat melakukan aktivitasnya
  3. Foto bencana alam
  4. Foto kerusuhan/ demonstrasi
Portfolio jurnalis mengutamakan otentisitas dan momen saat pengambilan.

Advertising/ Produk/ Stock
Foto-foto untuk portfolio iklan/ advertising/ stock foto paling tidak harus melipti:
  1. Obyek manusia dengan berbagai ekspresi. Foto-foto ini harus dilengkapi dengan model release
  2. Obyek barang atau produk dengan menggunakan table top dan pencahayaan yang memadai.

Tidak ada batasan seorang fotografer harus membatasi diri pada satu bidang saja, namun demikian portfolio untuk masing-masing keahlian haruslah disesuaikan dan dipisahkan sedemikian untuk memudahkan presentasi/ penilaian. Oleh karena itu sistem dokumentasi foto yang baik & rapih merupakan hal yang harus dilakukan dan sangat mendukung pekerjaan seorang fotografer.

Sabtu, 05 Desember 2009

Tips - Night Shot

Memastikan Hasil sesuai Keinginan



Foto malam dengan cahaya lampu yang bersinar seperti bintang & goresan cahaya dari mobil yang bergerak selalu menarik untuk dinikmati. Beberapa kamera sudah dilengkapi dengan mode malam hari (Night Mode), tapi terkadang mode foto malam ini tidak memberikan hasil sesuai harapan. Beberapa sebab hasil yang tidak sesuai harapan:
  • Mode malam mengubah setting ISO menjadi lebih tinggi, sehingga mengakibatkan banyak noise
  • Mengatur bukaan aperture lebar, sehingga DoF menjadi sempit dan pendar cahaya lampu menjadi lingkaran
  • Shutter speed kurang lambat, sehingga goresan cahaya lampu mobil kurang panjang

Dengan pertimbangan di atas, untuk mendapat foto malam terbaik, biasanya saya menggunakan setting manual. Berapa setting yang paling tepat, sangat tergantung pada kondisi setempat. Jadi sebaiknya lakukan beberapa kali shot sebagai bahan evaluasi. Urutan setting yang biasa saya lakukan adalah:
  • Setting ISO pada 100 atau 200 - tujuannya untuk menekan noise
  • Setting aperture pada f/8 atau lebih - untuk memperoleh DOF jauh dan menampilkan star-effect pada pendar cahaya lampu
  • Sesuaikan speed berdasarkan pre-shot - biasanya saya mulai dengan 2 s, lalu diperlambat sesuai kebutuhan

Cara lain yang mungkin dilakukan adalah menggunakan mode P, ambil sekali pemotretan, lalu perhatikan setting yang diperoleh kamera. Setelah itu baru dipindahkan ke M dan menyesuaikan shutter speed dengan prinsip perubahan 1 stop aperture harus dikompensasi dengan perubahan 1 stop shutter ke arah berlawanan.
Tips lain yang mungkin bermanfaat:
  • Usahakan mendapatkan blue-hour, sekitar 15-20 menit menjelang Maghrib
  • Sebaiknya gunakan tripod atau letakkan kamera di tempat yang kokoh
  • Gunakan auto-timer untuk mencegah shake saat shutter ditekan
  • Jika ada manusia ditampilkan di latar depan, gunakan slow-sync flash

Semoga bermanfaat

Jumat, 27 November 2009

Teknik - Aperture

Jalan Masuk Cahaya pada Lensa


Aperture adalah perangkat pada lensa yang berfungsi sebagai jendela masuk cahaya. Pada masa kamera merupakan alat mekanis, pengaturan aperture terdapat pada lensa. Namun sejak munculnya kamera dengan kontrol elektronis, pengaturan aperture dapat dilakukan melalui dial yang terdapat pada body kamera.
Lebar bukaan aperture menentukan berapa banyak cahaya yang dapat masuk pada satu saat melalui lensa menuju ke sensor, ini biasanya diistilahkan dengan pengatur intensitas. Aperture terdiri dari beberapa bilah (blades) yang disusun melingkar. Jumlah bilah & bentuknya berbeda pada setiap jenis lensa.
Aperture 8 bilah

Lebar bukaan aperture ditandai dengan angka yang merupakan penyebut dari diameter bukaan. f/2.8 berarti aperture membuka dengan bukaan 1/2.8 in. sedangkan f/11 berarti membuka 1/11 in. Dengan demikian berarti angka yang lebih kecil menunjukkan bukaan yang lebih lebar.
Diagram bukaan aperture

Bukaan aperture ini akan menentukan seberapa panjang ruang tajam yang ditangkap lensa. Ruang tajam ini biasa diistilahkan dengan DoF (=Depth of Field). Angka aperture yang makin besar akan menghasilkan ruang tajam yang lebih panjang.
Bacaan lebih lanjut: Wikipedia: Aperture

Kamis, 26 November 2009

Aksesoris - Fast lens

Lebih cepat dengan shallow DOF



Yang dimaksud dengan Fast Lens adalah lensa dengan bukaan aperture lebar, yaitu lensa-lensa dengan angka aperture kurang dari f/3.0. Jadi termasuk di dalamnya adalah lensa-lensa f/2.8, f/2.0, f/1.8 atau lebih rendah lagi. Sebutan fast diperoleh dari angka speed shutter yang tinggi ketika lensa ini dipakai memotret.
Agar lebih jelas, contohnya begini:
  • Untuk pemotretan di siang hari, mode A (Av), digunakan ISO 100 dengan aprture f/5.6, maka kamera akan menyesuaikan speed shutter pada angka 1/60 s
  • Dengan kondisi yang sama: siang hari, mode A, (Av), ISO 100, digunakan lensa dengan aperture f/2.8, maka kamera akan menyesuaikan speed shutter pada 1/250 s
Tampak bahwa dengan bukaan lebih lebar (f/2.8) akan diperoleh speed shutter lebih fast, yaitu 1/250. Jika memakai lensa dengan f/1.8, bukan tidak mungkin akan diperoleh shutter speed 1/400 atau 1/500. Intinya, setiap perubahan aperture 1 stop (1 angka), maka shutter speed pun akan mengimbangi dengan perubahan 1 stop ke arah yang berlawanan.
Dengan lensa berbukaan lebar (fast lens) ini, diperoleh speed yang tinggi sehingga mengurangi kemungkinan blur akibat goncangan kamera atau gerakan obyek. Selain itu, diperoleh ruang tajam (DoF - Depth of Field)yang sempit (shallow depth), sangat bagus untuk mengisolasi obyek utama. Lensa ini cocok untuk pemotretan panggung, pemotretan indoor atau dalam kondisi low light.
Canon & Nikon menyediakan lensa ekonomis 50 mm f/1.8 yang dapat digunakan untuk mencicipi tipe fast lens ini.

Selasa, 24 November 2009

Tips – Background yang ‘Benar’

Jangan sampai mengalahkan Obyek Utama



Sebuah foto adalah laksana panggung dengan seorang penyanyi yang diiringi oleh pemain musik & penari latar. Sang penyanyi adalah Obyek Utama, yaitu sesuatu yang seharusnya menjadi pusat perhatian (POI = Point of interest) sedangkan unsur-unsur lain dalam frame haruslah menjadi pemusik dan penari latar yang mendukung Obyek Utama tetapi tidak boleh mengalahkannya.
Selain penempatan obyek di dalam frame, hal yang harus diperhatikan adalah jangan sampai background menjadi pemecah perhatian (distracting) terhadap obyek. Ada beberapa cara untuk mendapatkan background yang ‘benar’:
  1. Perhatikan background sebelum memotret dan perhatikan kondisi sekeliling untuk memastikan bagian mana yang paling cocok untuk menjadi background. Sebaiknya background jangan terlalu ramai & jangan ada obyek lain yang tampil lebih menarik dari obyek utama. Anda juga dapat:
  2. Mencoba untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Mungkin saja menggunakan langit sebagai background dengan mengambil posisi lebih rendah dari obyek, atau justru menjadikan rerumputan sebagai background dengan mengambil posisi lebih tinggi dari obyek
  3. Menggunakan aperture lebar dengan tujuan untuk memeperoleh DOF (Depth of Field) sempit. Penggunaan aperture f/2.8-f/4.0 akan menyebabkan obyek utama tertangkap tajam dengan background yang blur. Penggunaan aperture lebar ini sebaiknya dilakukan bersama dengan
  4. Menempatkan obyek cukup jauh dari benda lain di latar belakang, sehingga obyek merupakan satu-satunya benda yang menempati ruang tajam kamera.
  5. Menggunakan lensa zoom atau mendekati obyek sehingga obyek memenuhi sebagian besar luas frame
  6. ‘Menggerakkan’ obyek bisa berarti
    • memotret obyek bergerak dengan teknik panning
    • menggerakkan kamera dengan lensa tetap terarah & fokus ke obyek

Jika obyek telah terlanjur difoto dengan background yang kurang mendukung, maka jurus pamungkas yang dapat dilakukan adalah editing menggunakan software, dengan kemungkinan:
  1. Membuat bacground blur dengan berbagai macam kemungkinan blurring
  2. Mengganti background

Semoga bermanfaat

Minggu, 22 November 2009

Kamera - Keluarga Poket

Sesuaikan dengan Keperluan


Kamera digital poket atau digital compact camera merupakan tipe yang paling banyak diproduksi dan digunakan orang. Kamera-kamera ini menggunakan sensor berukuran kecil, antara 1/2.5 hingga 1/1.6 in, dan sudah memiliki sistem lensa yang terintegrasi. Ringkas, ringan & praktis.
Jika ditinjau lebih dalam, sebetulnya ada beberapa tipe kamera compact. Yang perlu dicatat, perbedaan kelas tidak berkaitan dengan perbedaan kualitas gambar yang dihasilkan. Semua kamera dirancang untuk dapat merekan dengan tajam pada berbagai jarak obyek.
Dalam pengamatan saya, kamera-kamera ini dapat dikelompokkan menjadi:
  1. Kamera poket point & shot
    Kamera dari kelas ini memiliki mode pengaturan yang terbatas, biasanya hanya mengandalkan mode auto dan beberapa scene program. Nilai lebihnya adalah pada harga yang sangat terjangkau & kemudahan penggunaan.
    Kamera-kamera di kelompok ini ini sangat praktis dan sudah mencukupi jika digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari, misalnya tamasya bersama keluarga, kegiatan anak-anak, dokumentasi kegiatan kantor, dan sebagainya.Yang termasuk dalam kelas ini, misalnya: Kodak C180, Canon A480, Nikon L19, Olympus FE-25, Sony S930, Fujifilm seri Z20.
  2. Kamera poket mode lengkap
    Dapat dikenali dengan adanya mode PASM pada dial utamanya. Kamera ini memungkinkan pengguna untuk melakukan eksperimen & eksplorasi lebih daripada sekendar membidik & menekan shutter. Fotografer bisa ikut menentukan, seperti apa foto yang ingin diperoleh dengan mengatur sendiri speed shutter, aperture, atau keduanya. Kamera yang termasuk tipe ini di antaranya: Canon S90, Canon G11, Panasonixc FX580, Samsung TL 320
  3. Kamera superzoom
    Selain memiliki mode pengaturan yang lengkap, kamera ini memiliki lensa dengan zoom range besar, biasanya di atas 10x. dengan kelengkapan fitur & fasilitas zoom ini, fotografer bisa berkreasi dengan berbagai setting pemotretan. Kelas ini biasanya disebut prosuer atau bridge camera. Yang termasuk di dalamnya, misalnya Canon SX10 IS, Nikon P90, Kodak Z1093, Fuji S100 fs, Sony H20, Olympus SP565 UZ, Panasonic FZ28
  4. Kamera dengan disain khusus
    Dirancang untuk memenuhi kebutuhan tertentu, kamera-kamera di kelas ini tidak cocok dimasukkan dalam kelas-kelas yang sudah disebut di atas karena adanya fitur unggulan yang tidak terdapat pada kamera lain. Misalnya:
    • Kemampuan memotret di dalam air pada Olympus Mju 8000 dan Sanyo Xacti CA8
    • Disain yang inovatif & fashionable pada Canon Ixus, samsung TL225 & Olympus Mju 6010

Masing-masing kamera memiliki kelebihannya sendiri dan sudah pasti berkorelasi dengan harga yang ditetapkan. Oleh karena itu, sesuaikan tipe yang akan dibeli dengan keperluan Anda.
Semoga bermanfaat.

Sabtu, 21 November 2009

Tips - Majalah Fotografi

Melatih Rasa dengan Menikmati Karya


Fotografi bukan hanya masalah teknis, namun juga seni. Untuk itu diperlukan olah rasa, olah ide dan eksplorasi konsep. Salah satu media yang memungkinkan kita untuk mendapatkan pengayaan adalah melalui majalah fotografi.
Bagusnya, banyak tersedia e-magazine, majalah fotografi yang bisa diunduh secara gratis dengan menjadi member dari forum. Contohnya:
Selamat menikmati & semoga bermanfaat.

Kamis, 19 November 2009

Kamera - Superzoom 2 Juta-an

Fitur yang Hampir Setara DSLR


Kamera-kamera Superzoom ini biasanya diistilahkan dengan prosumer atau bridge camera. Kriteria yang saya pilih dalam artikel kali ini adalah:
  1. Resolusi minimal 10 MP
  2. Range fokus minimal 10x zoom
  3. Kemampuan priority setting
  4. Ketersediaan fitur Image stabilizer
  5. Harga maksimal Rp 3.000.000

Dari kriteria tersebut di atas, saya mendapatkan alternatif:
  • Canon SX120 IS, harga Rp 2.550.000
  • Fujifilm S1500, harga Rp 2.150.000
  • Fujifilm S2000 HD, harga Rp 2.650.000
  • Nikon L100, harga Rp 2.650.000
  • Panasonic FZ28, harga Rp 2.950.000

Agar tulisan ini tidak terlalu panjang dan memudahkan analisa, fitur-fitur yang sama baiknya tidak akan kita bahas, di antaranya:
  1. Resolusi maksimum (semuanya 10 MP)
  2. Tipe sensor (semuanya memakai CCD)
  3. Tipe batere (semua menggunakan AA, kecuali Panasonic FZ28)
  4. Exposure compensation (semuanya +- 2 EV)
  5. Kualitas gambar/ ketajaman

Selanjutnya perbandingan akan dilakukan per fitur dengan menyebutkan hanya peringkat pertama dan kedua saja untuk setiap fitur:
  1. Luas fisik sensor:Fujifilm S2000 HD, Fujifilm S1500 (walaupun hanya sedikit lebih besar dari yang lain)
  2. ISO tertinggi: Fujifilm S2000 HD, Nikon L100
  3. Zoom range: Panasonic FZ28, Nikon L100
  4. White balance override: Fujifilm S2000 HD, Fujifilm S1500
  5. Aperture range: Canon SX120 IS, Fujifilm S1500, Panasonic FZ28
  6. Shutter speed range: Panasonic FZ28, Canon SX 120 IS
  7. Continuous drive: Panasonic FZ28, Fujifilm S2000 HD
  8. Video capture: Panasonic FZ29, Fujifilm s2000HD
  9. LCD viewer: Canon SX120 IS, Nikon L100

Dapat kita lihat bahwa dari perbandingan di atas, Panasonic FZ28 dan Fujifilm S2000 HD sama-sama muncul 5 kali. Keduanya memang memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang lain. Harus diakui, keunggulan Panasonic FZ28 dengan kemampuan foto RAW dan zoom range agaknya sesuai untuk harganya yang lebih mahal daripada fujifilm S2000 HD.
Namun demikian masih ada pertimbangan-pertimbangan khusus yang menurut saya membedakan karakteristik tiap produsen kamera dan menjadikannya memiliki konsumen yang loyal:
  • Canon adalah kamera yang paling populer. Kepopulerannya ini - selain kepiawaian tim marketing - agaknya berkaitan dengan pengoperasiannya yang user friendly
  • Fujifilm merupakan kamera yang dikenal dengan kemampuannya untuk memotret dalam kondisi low-light, namun kedua kamera yang masuk dalam daftar di sini bukanlah tipe dengan sensor Super-CCD. Bagaimanapun, algoritma pengolahan warna Fujifilm yang natural masih tetap perlu dipertimbangkan
  • Nikon dikenal dengan kemampuannya menampilkan warna-warna yang kontras - crispy - merupakan merk yang sudah sangat dikenal dalam dunia fotografi
  • Panasonic, dengan menggandeng Leica untuk lensanya, tak tertandingi dalam ketajaman & kelengkapan fiturnya

Pilihan yang paling tepat, kembali lagi diserahkan kepada pemakai. Dengan harga yang hanya sedikit di atas Rp 2jt, mungkin saya akan pilih Fujifilm S1500 :-)

Ide Bisnis - Foto Wisuda

Event Tahunan yang Selalu Menguntungkan


Usaha ini pernah dilakoni oleh saya & istri di tahun 2003-2005. Saat itu kami tinggal di sebuah kota kecamatan kecil di Indramayu yang masih jarang studio foto. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan untuk dilakukan di mana pun, tentunya dengan teknik marketing yang bagus. :-)
Modal yang diperlukan:
  1. Perlengkapan Lapangan
    • kamera digital, tidak harus DSLR, saat itu kami pakai kamera poket 3 MP
    • Tripod merk apa saja yang penting kokoh
    • Kain polos berukuran 1,5 m x 2 m, cari bahan yang agak tebal untuk back-drop
    • Lampu sorot, namun jika tidak ada bisa dilakukan di luar ruangan atau gunakan mode slow-sync pada flash. Ada banyak kemungkinan untuk mengatasi kendala yang satu ini
    • bangku atau panggung kecil disesuaikan dengan keperluan
    • Toga, topi wisuda, gulungan sertifikat bersifat opsional, tapi rata-rata konsumen menyukainya. Bisa disewa dari salon atau persewaan
  2. Perlengkapan Editing (bisa sewa di warnet atau rental komputer
    • Komputer saat itu kami masih memakai Pentium 4
    • CD writer
    • CD blank
    • Software Image Editing

  3. Perlengkapan Cetak (bisa di-order atau bekerja sama dengan studio cetak foto terdekat)
    • Printer saat itu kami pakai Canon dengan tinta isi ulang
    • Laminasi press kami pakai yang berukuran A4
    • Photo paper atau Ink-jet paper ukuran A4
    • Laminating sheet sesuai selera
    • Frame sesuai selera

Konsumen kami saat itu cukup banyak, sekolah-sekolah dari TK sampai SMP (anak-anak SMA biasanya membuat panitia sendiri). Harga yang kami tawarkan saat itu adalah Rp 150,000 per anak, dengan paket yang diperoleh setiap anak adalah:
  1. 1 buah foto diri
  2. 1 buah foto bersama orang tua
  3. 1 buah foto bersama sekelas (termasuk wali kelas & kepala sekolah

dengan pendekatan ke panitia lulusan atau kepala sekolah, kita bisa memperoleh 60-100 pelanggan di tiap sekolah. Cukup dengan memberikan foto bersama gratis ukuran A4 yang sudah berbingkai untuk kepala sekolah & para walikelas.
Biaya produksi keseluruhan saat itu hanya sekitar Rp 65.000 per anak. Pada tahun 2003, kami mencetak sendiri foto-foto itu, namun pada tahun 2004 dan 2005, pencetakan kami serahkan ke Studio Foto di Bandung yang kualitasnya tidak diragukan. anggaran biaya produksi memang naik menjadi rp 75.000/ anak (naik Rp 10.000 per anak) tapi kami dapat menghemat tenaga & memepercepat proses karena hanya berkonesentrasi pada pemotretan & editing.
Tantangannya adalah: Foto-foto itu harus selesai dalam waktu maksimal 3 minggu sejak pemotretan dilakukan. Dengan kecepatan proses editing rata-rata proses 16 anak per hari (= 48 foto), biasanya dalam setiap event kami hanya mengambil 3 sekolah saja.
Perhitungan kasarnya:
  • 3 sekolah @80 anak = 240 anak
  • 240 anak = 720 foto untuk diedit
  • Waktu proses editing maksimal 15 hari = 48 foto per hari
  • waktu proses cetak maksimal 5 hari
  • Pendapatan 240 x Rp 150.000 = 36.000.000
  • Biaya produksi 240 x Rp 75.000 = Rp 18.000.000
  • Biaya operasional sekitar Rp 2.000.000
  • Keuntungan bersih Rp 36.000.000 - (Rp 18.000.000 + Rp 2.000.000) = Rp 16.000.000

TipsLakukan survei sebelum pemotretan untuk:
  • Memperoleh ruang yang tepat. sebaiknya aula yang terbuka yang beratap (aula)
  • Lakukan percobaan pemotretan dengan beberapa setting untuk memperoleh setting paling tepat & meminimalisasi proses editing
  • Usahakan cahaya alami datang dari samping
  • Hindari cahaya terang dari belakang (backlight)
  • Gunakan tripod
  • Atur waktu pemotretan dengan guru & kepala sekolah, waktu yang paling pas adalah saat gladi resik (beberapa hari sebelum kelulusan)
  • Atur tahapan pemrosesan dengan jadwal ketat agar tidak menumpuk

Semoga bermanfaat

Rabu, 18 November 2009

Kamera - DSLR Entry Level Full Fitur

Entry Level dengan Fitur Lengkap


Paid Review Indonesia
Dalam catatan ini kita membandingkan DSLR yang oleh produsennya dikategorikan entry level namun memiliki fitur yang lengkap, yaitu:
  • Canon EOS 500D, 15 MP, CMOS sensor, rilis Maret 2009
  • Nikon D5000, 12.3 MP, CMOS sensor, rilis April 2009
  • Olympus E-620, 12.3 MP, NMOS sensor, rilis Februari 2008
  • Pentax K200D, 10.2 MP, CCD sensor, rilis Januari 2008
  • Sony A350/ A380, 14.4 MP, CCD sensor, rilis Januari 2008

Kamera-kamera ini tersedia dengan harga di kisaran Rp 8jt. Catatan yang diperoleh dengan membandingkan spesifikasi kamera-kamera ini dengan fitur Side by Side Comparation di www.dpreview.com adalah:
  1. Canon EOS 500D merupakan kamera dengan resolusi tertinggi (15 MP)
  2. Canon EOS 500D memiliki kemampuan ISO tertinggi hingga 12800, diikuti oleh Nikon D5000 dengan 6400
  3. Pentax K200D memiliki keunggulan dengan 11 point autofokus. Olympus E-620 memiliki teknologi agak berbeda dengan phase-difference
  4. Nikon D5000 unggul dalam white balance dengan 12 posisi alternatif ditambah metode kelvin. Canon EOS 500D dan Sony A350 hanya memiliki 6 alternatif
  5. Olympus E-620 memiliki range shutter speed paling leluasa dengan 1/4000 s.d 60s, yang lain hanya 1/4000 s.d 30s
  6. Olympus E-620 dan nikon D5000 memiliki rentang exposure compensation +- 5 EV, sedangkan yang lain hanya +- 2 EV
  7. Olympus E-620 unggul dalam metering dengan ESP multi pattern, highlight & shadow spot; diikuti oleh Nikon D5000 dengan 3D matrix dan Sony A-350 dengan 40 segmen
  8. Sony A-350 unggul dalam continuous speed (burst rate) hingga 4.5 fps, namun dalam jumlah frame masih dikalahkan oleh Canon EOS 500D yang mampu memotret 170 frame berurutan
  9. Canon EOS 500D dan Nikon D5000 memiliki kemampuan video capture namun Canon EOS 500D unggul dalam resolusi
  10. Olympus E-620 dan Sony A-350 kurang menguntungkan dalam hal pemakaian memory yang 'tidak umum'. Sony menggunakan CF atau Memory Stick Pro sedangkan Olympus menggunakan CF atau xD
  11. Canon EOS 500D memiliki LCD viewer paling luas dan resolusi paling tinggi
  12. Olympus E-620 merupakan kamera paling ringan & ringkas di kelas ini
  13. Olympus E-620 sudah dilengkapi dengan 2 lensa (14-42 mm) dan (42-150 mm) dengan harga Rp 8,3 juta
  14. Olympus E-620, Sony A-350 dan Pentax K200D sudah dilengkapi dengan image stabilizer pada sensornya

Seluruh kamera ini dijual dengan harga sekitar Rp 8 jt kecuali Pentax K200D yang Rp 7,4 juta. Dengan melihat reputasinya, saya pikir tidak perlu meragukan kualitas gambar yang dihasilkan oleh kamera-kamera ini (walaupun masih diengaruhi oleh lensa yang dipakai). Jadi jika Anda tidak memiliki preferensi terhadap merk tertentu, Anda bisa mempertimbangkan Canon EOS 500D untuk kelengkapan fiturnya atau memilih Olympus E-620 untuk kelengkapan 2 lensanya. :-)

Senin, 16 November 2009

Ide Bisnis - Photo Retouch

Lebih ke arah Photoshopper tinimbang Fotografer



Bisnis ini dilakoni oleh seorang teman, guru di kota kecamatan Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat. Idenya bermula ketika beliau mengurus KTP di rumah RW dan melihat foto keluarga Pak RW yang mulai memudar dimakan waktu. Ingat pada kesukaan saya bermain Photoshop, beliau menawarkan untuk me-'reparasi' foto Pak RW itu.
Jadilah, dengan sebuah kamera digital poket dia memotret foto itu, lalu di-retouch dengan Photoshop.
Ada 2 tantangan proses retouch ini:
  1. Untuk memotret foto agar diperoleh replika terbaik harus diperhatikan faktor:
    • pencahayaan, sebaiknya jangan menggunakan flash untuk menghindari flare atau pantulan
    • distorsi, terutama jika menggunakan kamera poket, usahakan memberi ruang bebas agak luas di sekeliling foto
    • fokus mungkin perlu memakai mode makro dengan aperture sedang
  2. Batasan retouching sebaiknya dikonsultasikan dengan customer untuk memperoleh kepuasan maksimal
Biaya retouch untuk Pak RW: GRATIS, tapi word of mouth akibat foto yang di-retouch itu cepat menyebar. Bisnis ini makin berkembang, kalau awalnya bersifat reparasi foto lama, kemudian berkembang menjadi rekayasa foto dengan mempertajam, menyasuaikan warna pakaian anatara sepasang suami istri atau kekasih, mengubah background dan sebagainya.
Biaya retouch sangat relatif, tapi menurut beliau berkisar Rp 50.000 (nett, di luar cetak & bingkai) untuk sebuah foto yang dicetak ukuran A4. Dalam seminggu, rata-rata beliau bisa menerima & menyelesaikan 3-4 order. Usaha ini masih bersifat sampingan (beliau masih tetap seorang guru), tapi menurutnya lumayan untuk tambahan pendapatan.
Mau coba?

Minggu, 15 November 2009

Kamera - Canon EOS 30D vs Canon EOS 1000D

Keunggulan yang Hanya Dua Tahun


Perbandingan antara kedua kamera ini menarik buat saya karena dengan jelas menunjukkan bahwa kecepatan perkembangan teknologi menyebabkan body DSLR tidak berumur panjang. Canon EOS 30D (rilis pertama 21 Februari 2006) adalah kamera DSLR yang ditujukan untuk kelas semi-pro sedangkan EOS 1000D (rilis pertama 10 Juni 2008)adalah kamera entry level dengan 'fitur terbatas' agar harga dapat ditekan.
Keduanya memiliki persamaan dalam hal:
  1. Menggunakan sensor APS-C dengan teknologi CMOS
  2. Lens mount yang kompatibel dengan lensa EF maupun EF-S
  3. Flash mode & hot-shoe untuk flash eksternal
  4. Exposure compensation dengan range +- 2 EV
  5. Priority dan manual setting
  6. LCD viewer berdiameter 2,5" dan resolusi 230.000 pixels
  7. Viewfinder optis
  8. Kemampuan timelapse recording
  9. RAW & JPEG capture

Ingin tahu fitur apa yang 'dipotong' pada EOS 1000D?
  1. Kemampuan auto focus 9 point pada 30D, direduksi menjadi 7 point pada EOS 1000D
  2. White balance override dengan metode Kelvin ditiadakan dari EOS 1000D
  3. Shutter speed range EOS 30D adalah 1/8000 s.d 30s, sementara pada EOS 1000D 'hanya' 1/4000 s.d 30s
  4. Continuous drive 5 fps pada EOS 30D dan hanya 3 fps pada EOS 1000D
  5. Kapasitas batere (1390 mAh pada EOS 30D dan 1050 mAh pada EOS 1000D)

Yang menarik, ada keunggulan dari EOS 1000D yang levelnya lebih rendah ini, yaitu:
  1. Resolusi maksimum 10 MP (EOS 30D hanya 8,2 MP)
  2. Flash internal yang lebih kuat
  3. Unlimited JPEG frame pada continuous drive (terbatas hingga 30 frame pada EOS 30D)
  4. Penggunaan memory card SD/SDHC (yang lebih murah & praktis daripada CF yang digunakan EOS 30D)
  5. Bobot yang lebih ringan

Untuk perbandingan lengkap side by side, silakan merujuk ke www.dpreview.com: EOS 30D vs EOS 1000D
Oh ya, EOS 30D masih memiliki kelebihan dalam harga jualnya (kondisi baru), yaitu USD 1489 sedangkan EOS 1000D yang baru 'hanya' dibandrol USD 569. Saat ini EOS 30D sudah berstatus discontinued, tampaknya sangat wajar: setelah melihat perbandingan di atas, siapa yang mau membeli kamera seharga USD 1569 kalau fiturnya sudah dilebihi oleh yang harganya USD 569?

Tips - Memilih kamera DSLR

Sistem yang Mempesona Para Fotografer


Pertimbangan dalam memilih sebuah kamera DLR bisa jadi sangat berbeda dengan memilih kamera poket. Perbedaan ini ditimbulkan oleh beberapa sebab, di antaranya:
  1. DSLR merupakan sebuah sistem yang dapat di-customize sesuai kebutuhan spesifik pemiliknya, sangat berbeda dengan poket yang sudah all in
  2. Perbedaan teknologi lensa, sensor, prosesor gambar dan operasional tombol-tombol pada setiap kamera yang pada akhirnya membedakan karakter hasil
  3. Hampir semua poket menggunakan sensor CCD berukuran 1/2.5" produk Sony, sedangkan DSLR memiliki banyak pilihan teknologi selain CCD, seperti:
    • CMOS yang dikembangkan Canon (dan belakangan dipakai juga oleh Nikon)
    • NMOS yang digunakan Olympus
    Selain itu juga memiliki ukuran fisik yang berbeda, yaitu:
    • Full-frame, dipakai pada kamera kelas Pro
    • APS-C, dipakai pada kamera entry level & semi-pro
    • 4/3, dipakai oleh Olympus & Panasonic
  4. Ketersediaan aksesoris & perlengkapan selain body & lensa
Faktor ketersediaan perlengkapan & aksesoris ini bisa jadi merupakan pertimbangan terpenting. Membeli sebuah DSLR pada dasarnya adalah membeli sebuah sistem. Sekali Anda membelinya, sistem itu akan 'mengunci' Anda untuk selalu menggunakan perlengkapan & aksesoris yang kompatibel dengannya :-)
Dalam hal ini, saya pikir Canon & Nikon mempunyai keunggulan karena - sebagai pemain lama yang memimpin pasar - tersedia banyak sekali aksesoris 3rd party - barang-barang yang dipro=oduksi bukan oleh produsen body - yang tersedia di pasar, misalnya:
  • lensa: Sigma, Tamron dan Tokina
  • Flash: Nissin dan Metz
  • Battery grip: Jenis
Tentunya dalam hal aksesoris ini, lensa menjadi pertimbangan utama.
Bukan berarti tidak ada kelebihan dari produsen merk lain. Beberapa catatan saya untuk merk lain adalah:
  1. Sony dapat menggunakan lensa Carl-Zeiss dan Minolta
  2. Olympus memiliki keunggulan dalam dynamic range dan saturasi warna selain teknologi-teknologi inovatifnya
  3. Pentax dapat menggunkan banyak lensa 'jadul' yang sudah terbukti ketajaman & kualitasnya
Namun jika dikembalikan lagi ke 'sistem' tadi, berbagai macam daya tarik tersebut terasa belum mampu menyaingi 2 merk yang memimpin pasar. Terlebih lagi jika sudah memiliki pengalaman & perlengkapan dari salah satu merk, rasanya sulit untuk berpindah ke lain hati :-)
Namun pertimbangan untuk membeli DSLR tidak cukup sampai pada merk saja. Ada banyak kelas pada DSLR, dari entry level dengan sensor APS-C sampai kamera pro dengan sensor full-frame. Terlalu panjang rasanya jika dibahas dalam 1 tulisan. Yang perlu menjadi patokan adalah:
  1. Teknologi akan selalu berkembang. Body yang canggih saat ini, dalam beberapa tahun akan menjadi out of date, untuk mudahnya, silakan bandingkan fitur pada 2 kamera yang dirilis dengan selisih 'hanya' 2 tahun Canon EOS 1000D (budget entry-level, 2008) vs Canon EOS 30D (semipro, 2006, discontinued)
  2. Lensa memiliki usia lebih panjang daripada body
  3. Kemampuan fotografer dalam mengoperasikan alat, kepekaan menangkap momen dan kemampuan teknis adalah lebih penting daripada mengejar perkembangan teknologi

Kamera - DSLR Entry Level

Klasifikasi yang Kadang Menyesatkan


Entry level adalah istilah yang dipopulerkan oleh produsen kamera untuk DSLR ekonomis produksinya. Sebutan ini sama sekali tidak merujuk pada kualitas gambar yang dihasilkan oleh kamera-kamera di kelas ini. Pengoperasiannya pun tidak jauh berbeda dengan DSLR kelas semi pro. Jadi saya pikir istilah entry level ini bisa jadi menyesatkan, karena orang toh bisa saja langsung membeli DSLR kelas semipro atau pro tanpa harus melakukan pengenalan dengan DSLR di kelas entry level ini.
Perbedaan signifikan dari DSLR entry level dengan kelas-kelas di atasnya adalah pada kemampuan continuous shoot atau burst rate, range shutter speed, dan kualitas material body yang berkonsekuensi pada perbedaan bobot kamera.
Kamera DSLR entry level ini dalam pengamatan saya dibagi lagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
  • Budget entry level DSLR dengan harga di kisaran Rp 5jt-an, misalnya:
    1. Canon EOS 1000D
    2. Nikon D3000
    3. Sony A200 dan A230
    4. Olympus E-420
  • Full featured entry level DSLR dengan kisaran harga di sekitar Rp 8jt-an, seperti:
    1. Canon EOS 500D
    2. Nikon D5000
    3. Sony A350 dan A380
    4. Olympus E-520


Budget entry level DSLR


Dari segi kemampuan menghasilkan foto (gambar diam) kelas ini jelas tidak kalah dengan full-featured entry level DSLR. Bahkan jika dibandingkan dengan DSLR semi-pro dari era sebelumnya (misalnya Canon EOS 1000D vs Canon EOS 30D), kamera-kamera budget entry level ini masih punya keunggulan. Untuk perbandingan spesifikasi lengkap, silakan menengok di www.dpreview.com. Fitur yang tak tersedia pada budget entry-level, misalnya:
  • tidak ada kamera di kelas ini yang mempunyai kemampuan video capture
  • tak ada live-view pada Sony A200, A230, dan Olympus E-420
  • Resolusi maksimum 10 MP

Catatan:
  1. Teknologi sensor yang digunakan pada kamera-kamera ini adalah:
    • CMOS pada Canon EOS 1000D
    • NMOS pada Olympus E-420
    • CCD pada Sony A200, A230 dan Nikon D3000
  2. Olympus E-420 menggunakan sensor dengan luas 4/3 inch sedangkan kamera lain menggunakan sensor berukuran APS-C
  3. Olympus E-420 merupakan kamera paling ringan di kelas ini
  4. Sony A200 dan A230 sudah dilengkapi dengan teknologi Image Stabilizer pada sensornya
  5. Nikon D3000 dan Olympus E-420 memiliki kemampuan exposure compensation hingga +- 5 EV, sedangkan Sony A200, A230 dan Canon EOS 1000D hanya +- 2EV
  6. Canon EOS 1000D, Nikon D3000 dan Sony A230 menggunakan memory SD/SDHC, sedangkan Sony A200 dan Olympus E-420 menggunakan Compact Flash
  7. Nikon D3000 dengan layar 3 inch nya memiliki viewer paling lebar

Dari perbandingan di atas, untuk kelas budget entry level DSLR ini saya pikir Sony A230 merupakan pilihan yang terbaik. Adanya teknologi Image Stabilizer akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas foto yang dihasilkan. Penggunaan memory SD/SDHC memungkinkan penyimpanan file yang besar, harga yang lebih murah & mudah diperoleh.
Pembahasan full-featured entry level DSLR akan dilanjutkan pada posting berikutnya.

Kamera - Compact yang Ekonomis

Satu Juta untuk Resolusi 10 MP


Gambar diambil dari www.dpreview.com
Waktu menjadi berharga karena tak dapat diulang. Sebuah foto dapat menjadi pengingat bagi momen-momen yang penting. Walaupun sudah banyak handphone yang dilengkapi dengan kamera, tetapi kualitas gambar yang dihasilkan dari sebuah kamera digital secara umum masih lebih baik daripada yang dihasilkan oleh kamera handphone. Resolusinya pun lebih tinggi sehingga foto tampil lebih detil.
Berita bagusnya, tersedia cukup banyak pilihan kamera digital poket yang dapat diperoleh dengan harga sedikit di atas sejuta Rupiah dengan resolusi hingga 10 MP:
  • Canon A 480 - Rp 1.130.000
  • Casio EX-Z29 - Rp 1.290.000
  • Fujifilm A150 - Rp 1.150.000
  • Kodak C180 - Rp 1.150.000
  • Sony Cybershot S930 - Rp 1.200.000


Semua kamera di atas memiliki sensor berteknologi CCD dengan ukuran fisik yang hampir sama besar. Kualitas gambar dan fitur pun hampir sama, tinggal keyakinan pengguna terhadap merk yang akan menentukan. Beberapa catatan yang mungkin perlu dipertimbangkan:

  • Canon A480 memiliki keunggulan dalam range shutter speed paling leluasa, yakni dari 1/2000 hingga 15 s. Ini dapat berguna untuk foto slow speed dalam kondisi low light
  • Fujifilm A150 dan Kodak C180 memiliki kelebihan dalam kemampuan video capture karena dapat merekam dengan resolusi VGA (640x480) pada 30 fps sehingga gerakan tampak lebih halus
  • Casio EX-Z29 adalah satu-satunya yang menggunakan batere recharge Lithium-Ion (saya pribadi lebih suka batere AA rechargeable)
  • Sony Cybershot S930 menggunakan Memory Stick Pro
  • Fujifilm A150 memiliki lensa dengan wide-end paling lebar, yaitu 35 mm
  • Canon A480 memiliki lensa dengan tele-end paling jauh, yaitu 120 mm
Mengingat tidak ada perbedaan signifikan pada hasil, pilihan dapat disesuaikan dengan budget, keperluan, dan ketersediaan barang di lingkungan Anda.
Catatan
Masih ada beberapa tipe kamera dengan resolusi 8 atau 9 MP yang dibandrol kurang dari sejuta. Walaupun resolusi 8 MP sudah cukup untuk pencetakan seukuran A4, namun dengan selisih harga Rp 150.000 atau kurang, rasanya kamera 10 MP adalah pilihan yang lebih baik.

Sabtu, 14 November 2009

Komposisi - Rule of Third

Simetri yang Dinamis


Rule of Third merupakan pengembangan dari simetri Golden Ratio yang telah lama dikenal dalam seni lukis. Dalam Rule of Third frame gambar dibagi menjadi 3 bagian vertikal dan 3 bagian horisontal.


Prinsip


  1. Walaupun tidak harus tepat benar, penempatan obyek dalam frame sebaiknya disesuaikan dengan pembagian tersebut
  2. Usahakan untuk menempatkan bagian paling menarik dari obyek pada salah satu dari 4 titik perpotongan (ditandai dengan bulatan warna merah)
  3. Bagian yang paling menarik dari obyek dapat berupa apa saja, misalnya:
    • Mata
    • Wajah
    • Batas alam
    • Kontras cahaya dan bayangan
    • dsb

Aturan ini dapat diterapkan secara dinamis dalam berbagai jenis kategori pemotretan dengan berbagai proporsi frame.
Contoh penerapan dalam pemotretan model
Contoh penerapan dalam pemotretan landscape

Tips


Cropping merupakan senjata ampuh untuk memperoleh komposisi yang tepat. Pengaturan komposisi ketika pemotretan akan memakan waktu dan Anda mungkin ketinggalan momen. Oleh karena itu potretlah obyek menggunakan resolusi tertinggi dengan ruang bebas sekitar obyek yang agak lega agar leluasa untuk melakukan cropping.
Foto Asli
Foto Rekomposisi & Cropping

Semoga bermanfaat

Aksesoris - Camera Stand

Kaki yang Kokoh untuk Mata yang Tajam


Salah satu tantangan yang selalu menghantui oleh seorang fotografer adalah mencegah blur akibat goncangan kamera (shake). Senjata pamungkas untuk menghadapi ancaman tersebut adalah penggunaan camera stand yang terdiri dari dua keluarga:
Monoipod
  1. Monopod, sebuah kaki tunggal yang dapat memberi kesempatan untuk menurunkan speed shutter 3 - 5 stop
  2. Tripod, camera stand berkaki tiga yang dapat berdiri tegak dengan kokoh sehingga fotografer bebas melakukan setting shutter speed selambat apa pun

Tiga kaki merupakan konstruksi terbaik untuk mencapai kekokohan. Monopod banyak digunakan dalam pemotretan karena ringkas & ringan. Sayangnya, alat ini masih memerlukan tambahan dua kaki sang fotografer untuk mencapai kekokohan konstruksi tiga kaki :-)




Table top tripod

Mini tripodTripod, memiliki kelebihan karena kemampuannya 'berdikari'. Setelah berdiri kokoh, kamera dapat ditinggalkan terpasang di atasnya tanpa kuatir. Kelemahannya dalam hal dimensi dan berat menyebabkan diproduksinya berbagai jenis ukuran, di antaranya:

  • Table top yang berukuran 15 - 35 cm
  • Mini tripod yang berukuran hingga 120 cm
  • Full-size tripod yang kokoh dan dapat mencapai tinggi 180 cm
Full-size tripod
Melihat luasnya manfaat dari sebuah tripod, khususnya untuk foto dalam ruangan, ada baiknya dialokasikan anggran, paling tidak untuk sebuah mini tripod murah meriah.

Tips - Memilih Mode Pemotretan

Antara Semi Otomatis & Manual



Notes:
Tips ini hanya untuk memudahkan dan bukan patokan, Anda tidak harus mengikuti cara yang saya lakukan. Seiring dengan pengalaman Anda memotret, Anda akan temukan sendiri, kapan suatu mode harus digunakan :-)

Aperture Priority (A, Av) tampaknya adalah mode yang paling sering saya pakai. Acuannya gampang:
  • Bukaan lebar (kurang dari f/2.0 s.d f/4.0) dipakai untuk mengisolasi obyek & membuat background jadi blur
  • Bukaan sempit (f/8 s.d f/22 atau lebih) dipakai kalau menghendaki seluruh obyek terekam tajam


Namun ada kondisi-kondisi yang mengharuskan memakai Shutter Priority (S, Tv), misalnya:
  • Freezing, obyek bergerak cepat & dikehendaki untuk menangkapnya secara tajam sehingga shutter speed harus diset pada kecepatan tinggi sesuai dengan kecepatan gerak obyek
  • Panning, mengeset shutter pada slow speed (sekitar 1/30 s) dan menggerakkan kamera mengikuti gerakan obyek sehingga diperoleh latar belakang blur dengan obyek tajam.
  • Indoor Events dengan kondisi yang cenderung low-light sehingga perlu mengunci shutter pada 1/40 atau 1/60 s agar foto manusia tetap tajam
  • Movement Impression dengan setting shutter speed rendah sehingga manusia & benda-banda yang bergerak tampak kabur.
  • Slow speed untuk memperoleh tekstur yang lembut dari benda bergerak, misalnya aliran air di jeram atau air terjun.

Pada kondisi-kondisi khusus, perlu juga menggunakan Manual Setting misalnya:
  • Sunset atau sunrise
  • Silhouette
Setting manual saya gunakan juga untuk foto panorama yang merupakan gabungan dari beberapa frame (stitching), foto indoor yang sengaja dibuat agak under-exposeure, serta momen-momen lain yang tidak sesuai dengan 'logika' kamera.:-)

Jumat, 13 November 2009

Aksesoris - Prime Lens

Ketajaman yang Tak Diragukan



Yang saya maksudkan dengan Prime di sini adalah Fixed Focal Lens (FFL, lensa dengan jarak fokus tetap. Lensa ini tetap memiliki bagian-bagian mekanis yang dapat bergerak untuk 'mengunci' obyek, namun - berbeda dengan lensa zoom - jarak fokusnya tidak berubah. Dengan demikian, untuk menyesuaikan proporsi obyek dalam frame, fotografer harus bergerak mendekati atau menjauhi obyek.
Contoh lensa tipe ini:
  • 35 mm f/1.65
  • 50 mm f/1.8
  • 85 mm f/1.8


Lensa FFL memiliki jumlah elemen lebih sedikit & konstruksinya tidak serumit lensa zoom, namun memiliki keunggulan, yaitu:
  • kualitas optik yang tajam
  • respon yang cepat (karena elemen yang lebih sedikit

Keunggulan kualitas optik dan kecepatan respon menyebabkan lensa ini cocok digunakan untuk
  • foto produk/ iklan/ sill life
  • modelling/ saloon


Aksesoris - Zoom Lens

Mengubah Jarak Tanpa Bergerak



Lensa zoom adalah lensa yang dapat diubah-ubah jarak fokusnya dengan cara memutar zoom ring. Pengubahan jarak fokus ini akan berakibat perubahan ukuran bayangan obyek pada sensor, sehingga seakan-akan obyek mendekati atau menjauhi lensa. Untuk jelasnya, lihat foto bunglon di bagian bawah halaman ini yang dipotret dengan jarak fokus berbeda. Contoh yang paling umum dari tipe ini adalah lensa kit 18-55 mm yang menyertai sebuah DSLR.
Lensa ini mudah diidentifikasi jika ada lebih dari 1 angka yang menunjukkan fokus, misalnya:
  • 14-42 mm
  • 18-55 mm
  • 18-250 mm
  • dst

Sebetulnya ada 2 tipe lensa zoom, yaitu:
  • parfocal lens yaitu lensa yang tetap 'mengunci' obyek sewaktu zooming (mengubah jarak fokus)
  • varifocal lens yaitu lensa yang 'melepas' obyek ketika jarak fokus diubah, atau disebut juga vario lens
.
Konstruksi parfocal lens lebih rumit daripada sebuah vario lens, oleh karena itu harganya pun lebih mahal. Namun dengan kemampuan prosesor kamera DSLR yang semakin canggih, kamera mampu mengkompensasi perubahan pada vario lens dengan baik sehingga tipe vario menjadi tipe yang paling banyak digunakan.
Berdasarkan jarak fokusnya (atau bisa juga disebut berdasar sudut pandang / angle of view). lensa zoom dibedakan menjadi:
  • lensa wide, yaitu lensa dengan sudut lebar, jarak fokus di bawah 28 mm, misalnya 11 - 16 mm
  • lensa tele, yaitu lensa dengan sudut sempit, jarak fokus lebih dari 55 mm, misalnya 55-250 mm, 70-300 mm
  • lensa sapu jagad, yaitu lensa yang mencakup baik wide maupun tele, misalnya 18-250 mm

Bunglon, dipotret dengan jarak fokus setara 55 mm
Bunglon, dipotret dengan jarak fokus setara 200 mm

Keunggulan dari lensa ini adalah kemampuan mengubah jarak 'mendekati' atau 'menjauhi' obyek hanya dengan memutar zoom ring, tidak perlu benar-benar bergerak mendekati obyek. Ini tentunya menghemat energi dan tidak melelahkan.
Namun keunggulan itu disertai dengan beberapa kelemahan, yaitu:
  • distorsi optik pada wide-end
  • ketidaktajaman pada jarak tertentu
  • respon yang lebih lambat dibanding lensa berfokus tetap
  • dan
  • bukaan aperture yang cenderung sempit

Lensa zoom cocok digunakan untuk:
  • travelling
  • jurnalistik
  • dokumentasi pribadi