Jumat, 15 Oktober 2010

DSLR vs Prosumer vs Poket - Aperture

Pada tulisan ini saya mencoba menunjukkan pengaruh ukuran sensor terhadap bokeh pada aperture lebar. Kamera yang digunakan dalam tes ini adalah:
- Konica Minolta Z20, ukuran sensor 1/2.5" (sama dengan umumnya kamera poket)
- Fujifilm S6500fd, ukuran sensor /1,6" (ukuran sensor umum kamera prosumer)
- Sony A200, ukuran sensor APS-C (sensor umum DSLR entry level)

Secara umum, untuk memperoleh ruang tajam yang sempit (shallow DoF) harus digunakan bukaan aperture lebar, biasanya ditandai dengan angka yang besarnya kurang dari f/5.6. Bukaan aperture lebar seperti ini bagus untuk menonjolkan PoI tunggal, misalnya model, portrait, still life, dll. Bukaan aperture yang sempit (ditandai dengan angka yang tinggi, misalnya f/8, f/16, f/22, dst) akan memberikan ruang tajam yang luas, cocok untuk landscape dan nature photography.

Kesulitan pada tes ini adalah keterbatasan pilihan setting aperture pada setiap kamera. Oleh karena itu akan digunakan nilai aperture f/3.7 atau f/3.2 pada Konica Minolta Z20 dan Fujifilm S6500fd. Sedangkan untuk Sony A200 akan digunakan aperture f/5.6. Seharusnya, bokeh yang dihasilkan pada f/3.7 akan lebih dominan daripada f/5.6, namun ukuran sensor yang berbeda akan memberikan efek seperti pada hasil berikut:
Hasil crop 100% dari hasil di atas ditunjukkan pada foto berikut:

Tampak jelas bahwa bukaan aperture yang lebih kecil pada sensor yang besar (APS-C) memberikan efek yang lebih jelas pada perubahan DoF. Bahkan pada foto obyek yang hanya berbeda sedikit jaraknya, efek DoF dan perubahan fokus akan nampak jelas, seperti pada foto berikut:
Hasil uji dengan kamera Sony A-200 pada fokus yang berbeda:

Nah, apakah dengan demikian perlu untuk memilih sebuah DSLR agar dapat menghasilkan foto yang bagus?
Menurut saya jawabannya tidak mutlak, karena olah digital dapat membantu untuk memperoleh DoF yang diinginkan. Namun demikian, jika memang anggarann tersedia, kenapa tidak? :-)

Tilt-Shift Photography


Dari foto Zaki Fachrizal Maulana, saya jadi baca-baca tentang Tilt-Shift Photography. Kalau mau, Anda bisa baca juga di Wikipedia Tilt Shift Photography atau di blog tiltshiftphotography.net. Foto Zaki yang memicu pencarian saya bisa dilihat dengan klik di sini
Sebelumnya, saya sudah mengetahui tentang lensa tilt & shift ini dari teman-teman di Teknik Sipil & Arsitektur. Lensa ini dikembangkan untuk memperbaiki perspektif dan mengatasi distorsi dengan cara mengubah sudut lensa terhadap media (film atau sensor). Nikon mulai mengembangkan lensa yang dapat digeser (shift) pada tahun 1960, sedangkan lensa yang bisa digeser dan ditekuk (tilt-shift) dikembangkan oleh Canon pada 1979. Sejak itu Nikon & Canon menyediakan beberapa seri lensa tilt-shift untuk berbagai keperluan. Salah satu efek yang paling nyata dari penggunaan lensa tilt-shift adalah menyempitnya ruang tajam (DoF - Depth of Field)
Dengan perkembangan teknologi digital, dalam batasan tertentu distorsi ini bisa diperbaiki melalui olah digital. Tilt-Shift Photography kemudian berkembang menjadi sebuah seni untuk me-miniaturisasi, membuat foto dari benda-benda nyata tampak seperti model mini dengan memanfaatkan efek penyempitan DoF, menaikkan saturasi dan penyesuaian kurva.
Prosedur pembuatan foto tilt shift adalah sebagai berikut:

1. Pilih foto yang akan dimodifikasi
Sebaiknya foto ini adalah foto yang diambil dari atas (high angle) sehingga memudahkan munculnya kesan miniatur. Foto berikut saya ambil dari dalam pesawat saat akan mendarat:
 Fotonya kurang oke karena terhalang kaca jendela, tetapi bisa diperbaiki dengan melakukan Auto-Level
 Setelah itu supaya aman, saya buat layer duplikat di atas layer asli, sehingga jika diperlukan layer atas bisa dihapus untuk memperoleh gambar awalnya

2. Membatasi area tajam
 Langkah berikutnya adalah memilih ruang tajam dengan menggunakan masking/ marquee seperti pada gambar berikut:

3. Meningkatkan ketajaman
Area dalam ruang tajam ditingkatkan ketajaman dan saturasinya dengan  menaikkan saturasi (Saturation), mengatur ketajaman dengan filter Sharpness (Smart Sharp) dan mengatur kurva warna (Curve)

4. Menata latar
Setelah bagian pokok foto tertata dengan baik, selanjutnya kita menata bagian pendukungnya dengan melakukan Inverse Selection dan memburamkan gambar di bagian ini dengan Filter Lens Blur

Hasil olah digital ini adalah sebagai berikut:

Foto-foto lain yang coba saya olah dengan metode ini dapat dilihat di: Tilt Shift Photos di Multiply

Contoh lain dari hasil browsing:
50 Beautiful Tilt Shift Pics
Achdevon di multiply
tiltshiftmaker photo gallery

Tilt shift photography tutorial:
tiltshiftphotography.net
15june.com

Bacaan lain yang mungkin bermanfaat:
Tilt Shift bukan hanya untuk Arsitek
Tilt Shift lens on your DSLR
Tilt-shift lens changes Your Life
Tilt Shift lens Focusing

Kamis, 07 Oktober 2010

Perbandingan Macro Converters

Catatan: klik pada gambar untuk melihat ukuran lebih besar!

Tujuan penggunaan macro converter adalah untuk memperpendek jarak fokus sehingga kamera dapat memotret obyek yang jaraknya sangat dekat. Sebagaimana disebutkan dalam tulisan sebelumnya, ada 3 alat yang bisa saya gunakan untuk macro converter, yaitu:

  • 0.45x wide // 1.4x macro converter buatan jepang seharga Rp 450.000
  • Lup/ kaca pembesar seharga Rp 7.000 yang dipasang pada tutup spray 
  • Lensa jadul 50 mm f/1.9 (dibeli seharga Rp 100.000, bagian dalamnya saja)
Obyek untuk pemotretan ini adalah selembar halaman koran:


Ada 2 lensa yang saya pakai untuk pengujian ini, yaitu:
  • Sony DT 18-70 mm f/3.5-5.6 SAL, jarak obyek minimal 28 cm (mode makro)
  • Minolta 70-210 mm f/4-5.6, jarak obyek minimal 110 cm
Lensa standar Sony DT 18-70 mm SAL memiliki jarak fokus makro yang cukup dekat, yaitu 38 cm. Hasil foto dengan crop 100% pada jarak tersebut ditunjukkan pada foto berikut:

Macro converter ini saya peroleh dengan harga Rp 450.000, terdiri dari 2 bagian optik yang terpisah, kita harus membalik bagian yang dekat kamera untuk mengubah fungsinya.


Penggunaan 1.4x macro converter memperpendek jarak obyek minimum jadi 20 cm. Pada penggunaan converter ini, fungsi metering & autofokus tetap berfungsi normal. Hasil foto menggunakan macro converter pada crop 100% ditunjukkan pada foto berikut:

Lup atau kaca pembesar yang digunakan sebagai macro converter merupakan alternatif paling murah dan berfungsi cukup efektif untuk memperpendek jarak obyek. Dengan harga Rp 7000. saya tidak ragu2 untuk melepas kaca pembesar dari gagangnya & mengamplas tepinya supaya bisa masuk ke bekas tutup spray.
 Maaf ya, saya gak rapih mengerjakannya, kelihatan masih banyak debu di kacanya ... hehehe ... Yang mengejutkan buat saya adalah bahwa penggunaan lup/ kaca pembesar dapat memperpendek jarak obyek hingga 10 cm. Alat ini juga tidak mengganggu fungsi metering & autofokus. Sayangnya, kualitas optik yang rendah mengurangi ketajaman.

Lensa jadul Yashica 50 mm f/1.9 yang saya gunakan sebagai reversed lens ini bagian luar body-nya sudah rusak, jadi hanya dihargai Rp 100.000. Optiknya masih bagus, walaupun ada bekas jamur (cleaning mark) tapi tidak mengganggu hasil. Untuk memasangnya ke lensa bisa memakai reverse adapter, tapi seperti pada lup, saya pakai tutup spray.
Reversed lens ini dapat menghasilkan foto obyek pada jarak kurang dari 5 cm dengan pembesaran maksimal dan kualitas yang sangat baik. Masalahnya, reversed lens mengurangi intensitas cahaya dan menyebabkan autofokus tidak berfungsi, jadi kita harus sabar menggerakkan kamera maju-mundur untuk memperoleh fokus. Hasilnya dapat dilihat pada foto berikut:

Menakjubkan ya? Kita bisa melihat dengan jelas serat dan pori-pori di permukaan kertas korannya. Tapi tidak berfungsinya autofokus menurut saya cukup merepotkan, apalagi jika kita memotret obyek yang bergerak. Oleh karena itu, pada pengujian dengan lensa 70-210 saya hanya menggunakan lup saja.
Lup converter yang terpasang di depan lensa 70-210 mm ditunjukkan pada gambar berikut:
Yang menarik, penggunaan lup converter ini memperpendek jarak obyek terdekat dari 1,1 m menjadi 30 cm saja. autofokus dan metering pun tetap berfungsi. Dalam foto berikut, saya tampilkan crop 100% (bagian atas) dan keseluruhan frame (bagian bawah) dari botol air kemasan yang dipotret dari jarak 1,1 m tanpa tambahan lup converter.

Sebagai pembanding, foto di bawah adalah crop 100% (bagian atas) dan keseluruhan frame (bagian bawah) setelah ditambahkan lup converter dari obyek yang sama pada jarak 30 cm

Kesimpulan akhir kami serahkan pada pembaca masing-masing :-)

Rabu, 06 Oktober 2010

Macro Tools

Foto-foto dari rekan-rekan di facebook - thanks untuk Iwel, Santo Goofy, Adrianto Raharjo, Qee, dkk - bikin saya kangen motret makro. Kebetulan ada beberapa alat yang bisa dijadikan macro converter, di antaranya:
  • lensa jadul 50 mm f/1.9 untuk reversed lens
  • kaca pembesar/ lup untuk converter murah-meriah
  • 0.45x wide// 1.4x macro converter buatan Jepang 

Problemnya, tambahan panjang macro converter di depan lensa menyebabkan timbulnya bayangan jika digunakan flash seperti ini:

saya jadi ingat pengalaman bersama master Adrianus Juniarno waktu motret di Dago Pakar. Kita mesti membuat alat untuk "mengarahkan" dan :menyebarkan" cahaya flash (selanjutnya saya tulis difuser) untuk hasil terbaik.Dengan peralatan berupa gunting, penggaris, pensil dan lem, saya membuat difuser dari bahan seadanya, yaitu:
  • karton bekas kotak hardisk bagian luar
  • kertas foto untuk pelapis dan pemantul (reflektor) di bagian dalam
  • kertas tisu atau kertas kalkir untuk peredam cahaya di depan
  • isolasi sebagai pelapis luar 
  • lakban untuk "menempelkan" difuser ke body kamera 
Panjang difuser disesuaikan dengan panjang total lensa dengan converter terpasang. Difuser cepat jadi ini bentuknya ga terlalu rapih. Maaf ya ...
 Dalam kondisi terpasang, bentuknya jadi begini:


Hasil pemotretan dengan menggunakan macro converter dan diffuser:
Selanjutnya akan kita bandingkan, alat mana yang lebih nyaman digunakan untuk memotret macro.  :-)

Penjaga Kamera

Karena ada yang bertanya, ada baiknya saya tulis apa saja yang diperlukan untuk menjaga fungsi kamera. tetapi karena kamera & lensa saya gak banyak, tentunya alat yang saya punya tidak selengkap rekan-rekan lain yang memiliki banyak koleksi body & lensa.
Musuh utama kamera & lensa adalah debu & kelembaban. Oleh karena itu, peralatan penjaga kamera juga ditujukan untuk menghindarkan debu & kelembaban. Idealnya, kamera & lensa disimpan dalam dry-box atau dry-cabinet, apalagi jika tidak dipakai dalam waktu lama.
Di rumah ada 4 kamera dan lensanya: SLR Canon EOS 1000FN,  poket HP M407 (4MP), prosumer superzoom Konica Minolta Z20 (5MP) dan Fujifilm S6500 fd, serta DSLR Sony A200. Berhubung tidak ada dry box atau dry cabinet, kamera ini ditempatkan saja dalam lemari yang kering dan sejuk. Untuk memastikan kondisinya baik, dalam lemari tersebut ditempatkan juga termometer & higrometer. Alat ini dapat dibeli dengan harga sekitar Rp 100.000 dengan kualitas cukup baik.

Temperatur ruangan yang umumnya 20-45 derajat Celcius tidak membahayakan kamera, tetapi kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan karat yang mengganggu sirkuit elektronik dan jamur yang merusak lensa. Kelembaban yang aman ditandai dengan warna biru (40 - 80%). Supaya lebih aman, sebaiknya diletakkan juga kantong-kantong kecil berisi silica gel.

Silica gel dapat ditempatkan dalam kantong kertas atau plastik. Jika ditempatkan dalam kantong plastik, buatlah beberapa lubang dengan jarum pentul agar silica gel dapat menyerap kelembaban ruangan.silica gel yang telah digunakan akan berubah warna dari biru menjadi pucat. Lakukan penggantian jika warna silica gel sudah memudar. Silica gel ini dapat dibeli perkilo ataupun per kantong. Saya membeli silica gel kiloan dengan harga Rp 50.000 per kilo, bisa dibagi menjadi 100 kantong kecil.
Debu juga merupakan "musuh alami" kamera & lensa. Untuk mencegah debu, ada baiknya dipasang kipas elektronik kecil. atau setidaknya belilah cleaning set yang terdiri dari blower, lap lunak, tisu, cotton bud, dan cairan pembersih

Untuk pengguna DSLR, perlu diperhatikan adanya celah antara lensa dan mount di body kamera. Celah selebar 0,5 mm ini memang sengaja dibuat sebagai toleransi untuk pemasangan & mengantisipasi pemuaian. Kamera-kamera DSLR modern biasanya sudah dilengkapi dust removal. Ada baiknya menggunakan fasilitas ini sebelum kamera disimpan setelah sebuah sesi pemotretan. Untuk kondisi ekstrim, diperlukan weather seal atau body armor. Seorang teman di pekanbaru yang sering mengajak kameranya ke lokasi-lokasi ekstrim memasang seal biasa digunakan pada mesin untuk menutup celah antara body & lensa ini.

Biasanya saya ajak istri & anak-anak untuk motret apa saja, paling tidak 2 hari sekali. Tujuannya supaya kamera-kamera itu selalu mendapat perhatian. jangan sampai ada problem yang terlewat.dan terlanjur menimbulkan kerusakan berat. Batere yang habis dan didiamkan terlalu lama dalam kamera pun dapat menimbulkan karat, lho ...
 Jadi: JEPRET TERUS!!! :-)

Jumat, 01 Oktober 2010

Menonjolkan Point of Interest

Prinsip terpenting dari PoI adalah:
Sebuah foto yang bagus idealnya hanya memiliki 1 (satu) saja obyek yang berperan sebagai PoI (Point of Interest).  Jika foto memiliki beberapa elemen yang berpotensi mejadi PoI, kemas ulang foto tersebut menjadi beberapa frame.

Namun demikian, terkadang obyek yang menarik perhatian kita tidak tersampaikan dengan tepat kepada pemirsa. Berikut beberapa cara untuk menonjolkan POI dan memastikan agar pemirsa menangkap pesan yang ingin kita komunikasikan:
1.      1. Proporsi  
Proporsi obyek yang menjadi PoI sebaiknya cukup dominan dalam frame foto sehingga tidak “tenggelam” di tengah-tengah obyek lainnya.
2.        
2. 2. Komposisi
Komposisi bermankan penempat n elemen-elemen dalam frame sedemikian hingga mengarahkan perhatian pemirsa. Obyek yang menjadi PoI memiliki 2 kemungkinan penempatan:
a.       Di tengah frame – obyek yang berada di tengah frame selalu menjadi perhatian, akan tetapi penempatan ini akan menimbulkan kesan statis.
b.      Pada titik perpotongan 1/3 bagian berdasarkan prinsip
3.3.  
3.  Framing
Framing adalah penataan elemen-elemen dalam foto sedemikian hingga menuntun perhatian pemirsa pada obyek yang menjadi PoI. “Frame” ini dapat berupa cabang pepohonan, bingkai jendela, konstruksi jembatan, dsb
.
4.       4. Kontras warna
Kontras warna antara obyek yang menjadi PoI dengan elemen lain di dalam foto sudah pasti akan menarik perhatian pemirsa. Permainan kontras juga dapat memberikan “nada” atau “nuansa” dalam sebuah foto.
Pada foto-foto human interest, kontras antara PoI dengan elemen lain dapat dilakukan dengan memperhatikan background maupun dengan member pembatas. Misalnya memakai kerudung berwarna cerah pada background gelap untuk menghindari kesamaan warna dengan rambut.

5.      5. Gradasi
Teknik gradasi dapat dilakukan dengan menambahkan layer baru dengan gradasi warna di depan foto asli. Atur sedemikian rupa transparansi (opaque) layer baru ini agar tidak terlalu mencolok.
6. 
       6. DoF (Depth of Field)
Pengaturan DoF biasanya dicapai dengan mengubah aperture. Ini akan membatasi ruang tajam di dalam foto. Obyek utama yang tampil tajam di tengah-tengah elemen lain yang blur tentu akan menarik perhatian pemirsa.
7. 
       7. Cropping
Cropping berarti membuang bagian yang tidak diperlukan sehingga perhatian hanya tertuju pada PoI saja.

Contoh penonjolan PoI dengan melakukan cropping: 


Tentu beberapa teknik dapat digabungkan bersama-sama untuk memperoleh hasil maksimalsebagaimana pada contoh berikut ini:

Pada akhirnya, biarkan kreativitas ikut bermain untuk memperoleh hasil terbaik.

Senin, 27 September 2010

Repotnya Motret Kucing

Hari minggu lalu, saya menyempatkan diri ke rumah Pakcik di Kulim, karena dapat kabar kucing Persia-nya beranak 6 ekor. Dan ternyata memang menarik, karena 6 ekor kucing umur 3 bulan itu warna bulunya beda-beda: 1 ekor warna putih, 2 ekor belang putih-kelabu, 2 ekor belang 3 (putih-hitam-coklat), dan 1 ekor belang putih-hitam.
Waktu sampai di sana sekitar jam 9, kucing2 ini baru selesai mandi jadi bulu khas Persia-nya yg tebal berubah jd tipis karena basah. Ga bisa difoto deh, ga keliatan karakternya. Ditunggu sekitar 30 menit, bulunya sdh kering lagi, tapi muncul masalah baru: kucing-kucing ini sudah lompat & lari ke sana kemari ... hehehe .....
Tapi akhirnya dapat juga foto-foto yang cukup menarik, salah satunya ini:

Foto lainnya dapat dilihat di:
Album Kucing di Facebook
Album Kucing Persia di Multiply

Peralatan
Untuk pemotretan ini, gear yang saya pakai sangat standar, yaitu:
Kamera: DSLR Sony A-200
Lensa: Sony DT 18-70 mm (kit)
ISO: 400-1600
Mode: variasi: P, S, A

Beberapa hal yang saya dapat dari pemotretan:
1. Pencahayaan
Untuk pencahayaan ini lebih baik menggunakan ambience light (cahaya ruangan, alami) dan bukan menggunakan flash. Kalaupun menggunakan flash, arahnya harus di-bounce atau menggunakan flash external dari samping, tujuannya untuk menghindari kilatan flash di mata kucing dan bayangan gelap di sekitar obyek.
Jadi ketika si kucing masuk ruang, saya pilih pakai ISO tinggi untuk mempertahankan speed, hasilnya nanti bisa di-edit pakai Noiseware. Lebih gampang me-remove noise ketimbang ngilangin bayangan & pantulan cahaya yang tidak natural.

2. Karakter
Setiap binatang punya karakter khas yang menarik untuk ditampilkan. Untuk kucing Persia yang jadi obyek kali ini, karakter khasnya adalah bulu yang tebal & hidung yang pesek, jadi diusahakan untuk selalu menampilkan karakter itu di setiap foto. Karakter ini juga bisa ditampilkan dengan menunjukkan lingkungan dan gaya yang disukai oleh si kucing. Misalnya foto si putih yang sedang nangkring di lengan sofa ini
Kalau peliharaan Anda punya mainan favorit, aksinya ketika sedang memainkannya pasti menarik untuk difoto.

3. Posisi/ angle
Posisi yang menarik adalah jika kamera berada selevel dengan si kucing. Dengan posisi ini, seluruh tubuh si kucing akan tampak "normal" dan si kucing tidak mendongak menghadap kamera. Posisi selevel juga menangkap gaya & ekspresi si kucing dengan lebih natural. Walaupun demikian, bisa diambil beberapa angle dari atas sebagai variasi.

4. Timing
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, sewaktu saya datang, kucing2 ini baru selesai mandi dan tidak menarik untuk dipotret. Setelah diamati, ternyata kucing-kucing ini tetap memiliki bioritme, jadwal kegiatan alami yang bisa dimanfaatkan untuk mempermudah pemotretan. Pengamatan saya, pukul 9-10.30 adalah masa paling aktif, mereka berlari ke sana ke mari. Cukup repot & melelahkan untuk mengejar & mencari posisi yang tepat. Tapi pada pukul10.30, saat matahari terasa terik, mereka mulai mengurangi aktivitas dan mencari tempat teduh untuk "leyeh-leyeh", jadi lebih mudah untuk didekati.
Kesimpulan saya, jika sebelumnya kita sudah mengatahui "kebiasaan" subyek, maka pemotretan akan menjadi lebih mudah dan kita bisa menghemat waktu.

Jika Anda tertarik untuk memotret hewan peliharaan Anda dan perlu tips lebih banyak, silakan download:
Pet Photography Tips
Silakan ditambahkan jika ada masukan lain ya.