Hari minggu lalu, saya menyempatkan diri ke rumah Pakcik di Kulim, karena dapat kabar kucing Persia-nya beranak 6 ekor. Dan ternyata memang menarik, karena 6 ekor kucing umur 3 bulan itu warna bulunya beda-beda: 1 ekor warna putih, 2 ekor belang putih-kelabu, 2 ekor belang 3 (putih-hitam-coklat), dan 1 ekor belang putih-hitam.
Waktu sampai di sana sekitar jam 9, kucing2 ini baru selesai mandi jadi bulu khas Persia-nya yg tebal berubah jd tipis karena basah. Ga bisa difoto deh, ga keliatan karakternya. Ditunggu sekitar 30 menit, bulunya sdh kering lagi, tapi muncul masalah baru: kucing-kucing ini sudah lompat & lari ke sana kemari ... hehehe .....
Tapi akhirnya dapat juga foto-foto yang cukup menarik, salah satunya ini:
Foto lainnya dapat dilihat di:
Album Kucing di Facebook
Album Kucing Persia di Multiply
Peralatan
Untuk pemotretan ini, gear yang saya pakai sangat standar, yaitu:
Kamera: DSLR Sony A-200
Lensa: Sony DT 18-70 mm (kit)
ISO: 400-1600
Mode: variasi: P, S, A
Beberapa hal yang saya dapat dari pemotretan:
1. Pencahayaan
Untuk pencahayaan ini lebih baik menggunakan ambience light (cahaya ruangan, alami) dan bukan menggunakan flash. Kalaupun menggunakan flash, arahnya harus di-bounce atau menggunakan flash external dari samping, tujuannya untuk menghindari kilatan flash di mata kucing dan bayangan gelap di sekitar obyek.
Jadi ketika si kucing masuk ruang, saya pilih pakai ISO tinggi untuk mempertahankan speed, hasilnya nanti bisa di-edit pakai Noiseware. Lebih gampang me-remove noise ketimbang ngilangin bayangan & pantulan cahaya yang tidak natural.
2. Karakter
Setiap binatang punya karakter khas yang menarik untuk ditampilkan. Untuk kucing Persia yang jadi obyek kali ini, karakter khasnya adalah bulu yang tebal & hidung yang pesek, jadi diusahakan untuk selalu menampilkan karakter itu di setiap foto. Karakter ini juga bisa ditampilkan dengan menunjukkan lingkungan dan gaya yang disukai oleh si kucing. Misalnya foto si putih yang sedang nangkring di lengan sofa ini
Kalau peliharaan Anda punya mainan favorit, aksinya ketika sedang memainkannya pasti menarik untuk difoto.
3. Posisi/ angle
Posisi yang menarik adalah jika kamera berada selevel dengan si kucing. Dengan posisi ini, seluruh tubuh si kucing akan tampak "normal" dan si kucing tidak mendongak menghadap kamera. Posisi selevel juga menangkap gaya & ekspresi si kucing dengan lebih natural. Walaupun demikian, bisa diambil beberapa angle dari atas sebagai variasi.
4. Timing
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, sewaktu saya datang, kucing2 ini baru selesai mandi dan tidak menarik untuk dipotret. Setelah diamati, ternyata kucing-kucing ini tetap memiliki bioritme, jadwal kegiatan alami yang bisa dimanfaatkan untuk mempermudah pemotretan. Pengamatan saya, pukul 9-10.30 adalah masa paling aktif, mereka berlari ke sana ke mari. Cukup repot & melelahkan untuk mengejar & mencari posisi yang tepat. Tapi pada pukul10.30, saat matahari terasa terik, mereka mulai mengurangi aktivitas dan mencari tempat teduh untuk "leyeh-leyeh", jadi lebih mudah untuk didekati.
Kesimpulan saya, jika sebelumnya kita sudah mengatahui "kebiasaan" subyek, maka pemotretan akan menjadi lebih mudah dan kita bisa menghemat waktu.
Jika Anda tertarik untuk memotret hewan peliharaan Anda dan perlu tips lebih banyak, silakan download:
Pet Photography Tips
Silakan ditambahkan jika ada masukan lain ya.
Senin, 27 September 2010
Sabtu, 18 September 2010
Memperkecil Ukuran Foto
Salah satu pesan yang sering saya dengar dari teman-teman fotografer adalah:
"Jangan meng-upload file asli foto ke Internet"
Sebuah foto - bagaimanapun hasil dan kualitasnya - merupakan karya cipta yang berharga. Sebuah foto yang di-upload begitu saja ke Internet dapat diibaratkan menjatuhkan barang di tengah jalan sehingga dapat digunakan oleh siapa saja yang lewat tanpa perlu meminta izin Anda. Oleh karena itu, supaya foto tidak dapat digunakan secara bebas, berikan pengamanan secukupnya, misalnya dengan memberi watermark atau paling tidak dengan memperkecil ukurannya. Penyesuaian ukuran ini dilakukan terhadap dimensi pixel maupun kualitasnya, adapun batas ukuran yang "aman" untuk di-upload - menurut pendapat beberapa fotografer yang saya kenal - adalah
Ada banyak software yang dapat melakukan resizing dan compress, misalnya adobe Photoshop, Corel Photopaint, GIMP, dll. Setiap kamera biasanya juga dilengkapi dengan CD untuk olah digital sederhana yang dapat melakukan fungsi resize dan kompresi. Namun jika Anda terbiasa menggunakan Microsoft Office, sebetulnya telah tersedia aplikasi dalam paket yang mungkin selama ini jarang Anda manfaatkan, yaitu Microsoft Office Picture Manager. Aplikasi ini dapat melakukan fungsi-fungsi dasar editing gambar, misalnya cropping, rotate, resize, mengatur saturasi warna, brightness, dan kontras. MS Picture Manager pada Office 2007 yang saya pakai juga bisa melakukan koreksi warna (color correction) dan mengurangi efek mata merah (red-eye reduction)
Sebelum melakukan editing, ada baiknya Anda meng-copy file foto yang akan di-edit ke file atau folder baru, Ini bertujuan untuk mencegah file asli mengalami kerusakan jika terjadi kesalahan dalam editing. Adapun-langkah-langkah resize foto dengan Microsoft Office Picture Manager adalah sebagai berikut:
Uruta-urutan kerja dalam bentuk file gambar: (klik pada gambar untuk melihat ukuran penuh)
"Jangan meng-upload file asli foto ke Internet"
Sebuah foto - bagaimanapun hasil dan kualitasnya - merupakan karya cipta yang berharga. Sebuah foto yang di-upload begitu saja ke Internet dapat diibaratkan menjatuhkan barang di tengah jalan sehingga dapat digunakan oleh siapa saja yang lewat tanpa perlu meminta izin Anda. Oleh karena itu, supaya foto tidak dapat digunakan secara bebas, berikan pengamanan secukupnya, misalnya dengan memberi watermark atau paling tidak dengan memperkecil ukurannya. Penyesuaian ukuran ini dilakukan terhadap dimensi pixel maupun kualitasnya, adapun batas ukuran yang "aman" untuk di-upload - menurut pendapat beberapa fotografer yang saya kenal - adalah
- sisi terpanjang maksimal 900 pixel
- lakukan kompresi hingga ukuran filenya tidak lebih dari 200 kb
Ada banyak software yang dapat melakukan resizing dan compress, misalnya adobe Photoshop, Corel Photopaint, GIMP, dll. Setiap kamera biasanya juga dilengkapi dengan CD untuk olah digital sederhana yang dapat melakukan fungsi resize dan kompresi. Namun jika Anda terbiasa menggunakan Microsoft Office, sebetulnya telah tersedia aplikasi dalam paket yang mungkin selama ini jarang Anda manfaatkan, yaitu Microsoft Office Picture Manager. Aplikasi ini dapat melakukan fungsi-fungsi dasar editing gambar, misalnya cropping, rotate, resize, mengatur saturasi warna, brightness, dan kontras. MS Picture Manager pada Office 2007 yang saya pakai juga bisa melakukan koreksi warna (color correction) dan mengurangi efek mata merah (red-eye reduction)
Sebelum melakukan editing, ada baiknya Anda meng-copy file foto yang akan di-edit ke file atau folder baru, Ini bertujuan untuk mencegah file asli mengalami kerusakan jika terjadi kesalahan dalam editing. Adapun-langkah-langkah resize foto dengan Microsoft Office Picture Manager adalah sebagai berikut:
- Buka file Anda pada Windows Explorer, ada baiknya menggunakan mode Thumbnails atau Film Strip untuk memudahkan. Klik kanan pada foto yang akan di-edit lalu pilih "Open with" dan klik Microsoft Picture Manager
- Gambar yang Anda pilih akan terbuka di Window baru. Untuk melakukan resize, klik Alt+P atau klik Picture pada Menu Taskbar, Akan tampil scroll down menu dengan item Resize
- Setelah pilihan Resize di-klik, akan muncul edit Window di kolom kanan. Ada beberapa pilihan cara resize yang dapat Anda manfaatkan, namun supaya cepat, saya akan memilih Predefined Size dan meng-klik Website Image (640 x 480 pix)
- Setelah meng-klik tombol OK di kanan bawah, akan tampak oerubahan ukuran gambar pada display review
- Langkah terakhir, merupakan langkah paling penting untuk mempertahankan kualitas dan keaslian file foto, yaitu dengan meng-klik File lalu klik Save As .... Anda dapat memilih nama apa pun untuk file yang diperoleh
- Tutup Windows Microsoft Office Picture Manager. Jika ditawarkan untuk melakukan "save" pada editing yang telah dilakukan, pilih NO. Jangan sampai melakukan kesalahan dengan memilih YES, karena langkah ini akan men-save pada file awal.
Uruta-urutan kerja dalam bentuk file gambar: (klik pada gambar untuk melihat ukuran penuh)
Minggu, 05 September 2010
Belajar bersama Aryono huboyo Djati
Melalui pesan dari Irfan A. Tachrir, saya dapat kesempatan sangat bagus untuk belajar tentang street photography dan human interest bersama Aryono Huboyo Djati (AHD). Bukan lewat seminar atau workshop, tetapi dari praktek lapangan, ditambah berbagai pelajaran sembari duduk di tempat ngopi.
Untuk yang belum mengenal AHD, silakan klik dan ikuti link dari 2 blog berikut ini:
http://steveadinegoro.blog.friendster.com/2006/05/aryono-huboyo-djati-one-of-the-greatest-man-ive-ever-known/
http://imagetabble.blogspot.com/2010/06/photographer-between-fine-art-and.html
Bagi AHD, street photography & human interest bukanlah sekedar candid photography. Interaksi dan komunikasi dengan subyek merupakan unsur penting sehingga subyek benar-benar terlibat dengan kesadaran penuh. Subyek-subyek dalam foto AHD tampak natural, cerah dan tidak dibuat-buat, bukan karena difoto secara sembunyi-sembunyi, tetapi karena merasa aman & nyaman karena difoto oleh seseorang yang dikenalnya dengan baik. Menurut AHD, photography adalah sarana untuk mengkomunikasikan konsep secara visual, memanfaatkan simbol-simbol yang dapat ditangkap oleh pemirsanya. Plat nomor ojek motor, keranjang rotan, rumah kayu, tangga, bola, dsb menjadi sarana untuk menyampaikan ide.
Dalam foto-fotonya, manusia yang menjadi subyek bukan hanya tampak indah, tetapi juga berkarakter. Seorang pedagang plastik yang sederhana tetap dapat tampil dengan harga diri, bukan miskin dan memelas. Dengan ramah dan rendah hati, AHD mampu melakukan pendekatan ke berbagai kalangan - dari anak-anak balita hingga orang tua, pedagang minuman, tukang loak, penjahit, pedagang buah - jika Anda sudah meng-klik link yang saya beri di atas tadi dan melihat karya-karyanya, tentu akan Anda lihat bahwa para pejabat puncak negeri ini pun telah menjadi subyek fotonya. Penguasaan bahasa dan psikologi menjadi sarana pendekatan yang efektif. Selain menguasai bahasa Indonesia, Inggris & Jepang (AHD adalah S3 Biologi Kelautan dari Todai University) dan berbagai bahasa daerah, AHD juga memahami bagaimana harus memposisikan diri terhadap manusia dari berbagai suku bangsa. Ketika berbicara dengan Manulang, seorang perajin rotan di tepi jalan Pekanbaru-Rumbai, AHD mengutip sebuah do'a dalam bahasa Batak - spontan Manulang menjadi akrab dan mampu tampil menjadi model yang sangat kooperatif.
Dalam perjalanan pemotretan, AHD membawa peralatan minimalis dalam sebuah tas selempang: kamera DSLR full-frame plus lensa 10-22 mm dan 50 mm. Tambahan alat yang menarik adalah sebuah kamera panorama dengan media film. Cahaya yang dipakai adalah ambient light, memanfaatkan cahaya dalam ruangan secara maksimal. Kejelian seorang fotografer andal saya pelajari sepanjang perjalanan bermotor bersama AHD. Ada banyal "property" yang ditunjukkannya: pintu gerbang dengan tanda salib besar di sebuah sekolah dasar, bangunan yang dindingnya runtuh di pinggir jalan, sepeda onthel, tonggak-tonggak kayu dalam sebuah parit besar yang tergenang air, dsb. "Kalau ada GPS, ambil dan tandai lokasi-lokasi tadi, jadi kamu bisa kembali sewaktu-waktu jika diperlukan", katanya. Ada banyak hal yang bisa dimanfaatkan sepanjang kita jeli dan kreatif, tegasnya ;agi.
Dengan begitu banyak kemampuan dan pengalaman, tentu tak mengherankan jika salah satu fotonya dapat terjual dengan harga Rp 700jt.
Untuk yang belum mengenal AHD, silakan klik dan ikuti link dari 2 blog berikut ini:
http://steveadinegoro.blog.friendster.com/2006/05/aryono-huboyo-djati-one-of-the-greatest-man-ive-ever-known/
http://imagetabble.blogspot.com/2010/06/photographer-between-fine-art-and.html
Bagi AHD, street photography & human interest bukanlah sekedar candid photography. Interaksi dan komunikasi dengan subyek merupakan unsur penting sehingga subyek benar-benar terlibat dengan kesadaran penuh. Subyek-subyek dalam foto AHD tampak natural, cerah dan tidak dibuat-buat, bukan karena difoto secara sembunyi-sembunyi, tetapi karena merasa aman & nyaman karena difoto oleh seseorang yang dikenalnya dengan baik. Menurut AHD, photography adalah sarana untuk mengkomunikasikan konsep secara visual, memanfaatkan simbol-simbol yang dapat ditangkap oleh pemirsanya. Plat nomor ojek motor, keranjang rotan, rumah kayu, tangga, bola, dsb menjadi sarana untuk menyampaikan ide.
Dalam foto-fotonya, manusia yang menjadi subyek bukan hanya tampak indah, tetapi juga berkarakter. Seorang pedagang plastik yang sederhana tetap dapat tampil dengan harga diri, bukan miskin dan memelas. Dengan ramah dan rendah hati, AHD mampu melakukan pendekatan ke berbagai kalangan - dari anak-anak balita hingga orang tua, pedagang minuman, tukang loak, penjahit, pedagang buah - jika Anda sudah meng-klik link yang saya beri di atas tadi dan melihat karya-karyanya, tentu akan Anda lihat bahwa para pejabat puncak negeri ini pun telah menjadi subyek fotonya. Penguasaan bahasa dan psikologi menjadi sarana pendekatan yang efektif. Selain menguasai bahasa Indonesia, Inggris & Jepang (AHD adalah S3 Biologi Kelautan dari Todai University) dan berbagai bahasa daerah, AHD juga memahami bagaimana harus memposisikan diri terhadap manusia dari berbagai suku bangsa. Ketika berbicara dengan Manulang, seorang perajin rotan di tepi jalan Pekanbaru-Rumbai, AHD mengutip sebuah do'a dalam bahasa Batak - spontan Manulang menjadi akrab dan mampu tampil menjadi model yang sangat kooperatif.
Dalam perjalanan pemotretan, AHD membawa peralatan minimalis dalam sebuah tas selempang: kamera DSLR full-frame plus lensa 10-22 mm dan 50 mm. Tambahan alat yang menarik adalah sebuah kamera panorama dengan media film. Cahaya yang dipakai adalah ambient light, memanfaatkan cahaya dalam ruangan secara maksimal. Kejelian seorang fotografer andal saya pelajari sepanjang perjalanan bermotor bersama AHD. Ada banyal "property" yang ditunjukkannya: pintu gerbang dengan tanda salib besar di sebuah sekolah dasar, bangunan yang dindingnya runtuh di pinggir jalan, sepeda onthel, tonggak-tonggak kayu dalam sebuah parit besar yang tergenang air, dsb. "Kalau ada GPS, ambil dan tandai lokasi-lokasi tadi, jadi kamu bisa kembali sewaktu-waktu jika diperlukan", katanya. Ada banyak hal yang bisa dimanfaatkan sepanjang kita jeli dan kreatif, tegasnya ;agi.
Dengan begitu banyak kemampuan dan pengalaman, tentu tak mengherankan jika salah satu fotonya dapat terjual dengan harga Rp 700jt.
Kamis, 19 Agustus 2010
Reduksi Noise dengan Imagenomics Noiseware
Noise merupakan salah satu concern fotografer pada foto yang dihasilkan pada ISO tinggi. Dari berbagai diskusi, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba Imagenomics noiseware, sebuah Plugins yang ditambahkan ke Adobe Photoshop.
Hasil penerapan aplikasi software saya bandingkan pada foto berikut:
Cukup efektif dan tetap mempertahankan sebagian besar detil yang ada.
Software ini dapat Anda download dari:
http://rapidshare.com/files/52940443/imagenomicnoisewareprofessionalv4.1.0.5.rar
Setelah Anda download dan extraxct, akan diperoleh 2 file, yaitu:
1. Imagenomics installer
2. Patch.exe
Untuk menggunakannya, tentunya harus Anda install dulu, lalu setelah selesai menginstall, jalankan patch.exe. Untuk patching ini, pastikan bahwa proses patching dilakukan pada file plug-in Imagenomics yang ada di folder Program Files/Photoshop/plugins/Imagenomics/ dan bukan pada file yang ada di Program Files/Imagenomics/
Setelah proses patching selesai, Anda dapat membuka file gambar yang akan diperbaiki di Photoshop. Noiseware ini dapat dioperasikan dari tab Filter --> Plugins --> Imagenomics --> Noiseware.
Selamat mencoba!
Hasil penerapan aplikasi software saya bandingkan pada foto berikut:
Cukup efektif dan tetap mempertahankan sebagian besar detil yang ada.
Software ini dapat Anda download dari:
http://rapidshare.com/files/52940443/imagenomicnoisewareprofessionalv4.1.0.5.rar
Setelah Anda download dan extraxct, akan diperoleh 2 file, yaitu:
1. Imagenomics installer
2. Patch.exe
Untuk menggunakannya, tentunya harus Anda install dulu, lalu setelah selesai menginstall, jalankan patch.exe. Untuk patching ini, pastikan bahwa proses patching dilakukan pada file plug-in Imagenomics yang ada di folder Program Files/Photoshop/plugins/Imagenomics/ dan bukan pada file yang ada di Program Files/Imagenomics/
Setelah proses patching selesai, Anda dapat membuka file gambar yang akan diperbaiki di Photoshop. Noiseware ini dapat dioperasikan dari tab Filter --> Plugins --> Imagenomics --> Noiseware.
Selamat mencoba!
Rabu, 18 Agustus 2010
Pengaruh ISO terhadap Noise - DSLR & Prosumer
Dalam posting ini saya membandingkan tingkat noise pada kamera prosumer dan DSLR.
Kamera prosumer yang digunakan adalah Fujifilm S6500fd, sudah saya pakai sejak 2005, 6MP, ukuran fisik sensor 1/1.7"
Kamera DSLR yang digunakan adalah Sony Alpha A200, 10MP, produksi 2008, ukuran fisik sensor APS-C. Kamera Sony A-200 ini dalam perbandingan oleh dpreview (http://www.dpreview.com) memperoleh nilai hampir imbang dengan Canon EOS 1000D.
Sebagai sebuah kamera prosumer model lama, performa yang ditampilkan Fujifilm S6500fd menurut saya tidak mengecewakan.
Silakan bandingkan hasil dari kedua kamera tersebut pada foto-foto berikut ini. Ada perbedaan tonal warna di antara kedua kamera tersebut, kemungkinan besar diakibatkan oleh perbedaan ssetting white balance, Dalam hal ini, setting Auto WB Sony lebih akurat
Kamera prosumer yang digunakan adalah Fujifilm S6500fd, sudah saya pakai sejak 2005, 6MP, ukuran fisik sensor 1/1.7"
Kamera DSLR yang digunakan adalah Sony Alpha A200, 10MP, produksi 2008, ukuran fisik sensor APS-C. Kamera Sony A-200 ini dalam perbandingan oleh dpreview (http://www.dpreview.com) memperoleh nilai hampir imbang dengan Canon EOS 1000D.
Sebagai sebuah kamera prosumer model lama, performa yang ditampilkan Fujifilm S6500fd menurut saya tidak mengecewakan.
Silakan bandingkan hasil dari kedua kamera tersebut pada foto-foto berikut ini. Ada perbedaan tonal warna di antara kedua kamera tersebut, kemungkinan besar diakibatkan oleh perbedaan ssetting white balance, Dalam hal ini, setting Auto WB Sony lebih akurat
Trik Memotret Bulan
Bulan yang tampak indah di malam hari merupakan subyek yang cukup sulit untuk diabadikan. Sifatnya yang memantulkan cahaya namun dikelilingi oleh langit yang gelap dapat "menipu" kamera Anda untuk memilih setting pencahayaan yang salah.
Aspek yang menyulitkan dalam pemotretan bulan di antaranya:
1. Sifatnya yang memantulkan cahaya
2. Merupakan bidang terang kecil di tengah-tengah kegelapan
3. Bulan senantiasa bergerak
4. Letaknya sangat jauh, sedikit getaran saja akan menyebabkan blur
Oleh karena itu, untuk memotret bulan sebaiknya dilakukan dengan cara:
1. Gunakan tripod
2. Gunakan lensa dengan fokus yang cukup panjang, minimal 300 mm
--> Jika menggunakan DSLR, masukkan crop factor dalam perhitungan
--> Kamera dengan crop factor 1.5 dpt menggunakan FL 200 mm
3. Gunakan spot metering
4. Gunakan mode manual
--> Setting ISO 100 atau 200
--> Setting aperture f/5.6 atau f/8
--> Lakukan beberapa pemotretan dengan speed bervariasi
5. Jika perlu gunakan manual fokus pada hyperfocal.
Beberapa hasil pemotretan bulan:
Karya: Anton Widodo (http://www.facebook.com/profile.php?id=1552854672)
Gear : Fuji FinePix S2500HD
Aperture Priority,
f : 5.6
Speed : 1/15 s
Iso : 100
Zoom : Fujinon Zoom Lens 18X Optical
Ex Bias : 0 step
Filter : No
Tripod : Yes
Oldig : croop
time : 26 Juli 2010, 20.45 WIT
Location : Entrop
Karya: Awan Wisudanto (http://www.facebook.com/profile.php?id=1552854672#!/awan.wisudanto)
Gear : Sony Alpha A200
Lens: Minolta 70-210 mm
Manual setting
f : 5.6
Speed : 1/160 s
Iso : 100
Ex Bias : 0 step
Filter : No
Tripod : No
Oldig : crop
time : 29 Juli 2010, 20.20 WIT
Location : Pekanbaru
Aspek yang menyulitkan dalam pemotretan bulan di antaranya:
1. Sifatnya yang memantulkan cahaya
2. Merupakan bidang terang kecil di tengah-tengah kegelapan
3. Bulan senantiasa bergerak
4. Letaknya sangat jauh, sedikit getaran saja akan menyebabkan blur
Oleh karena itu, untuk memotret bulan sebaiknya dilakukan dengan cara:
1. Gunakan tripod
2. Gunakan lensa dengan fokus yang cukup panjang, minimal 300 mm
--> Jika menggunakan DSLR, masukkan crop factor dalam perhitungan
--> Kamera dengan crop factor 1.5 dpt menggunakan FL 200 mm
3. Gunakan spot metering
4. Gunakan mode manual
--> Setting ISO 100 atau 200
--> Setting aperture f/5.6 atau f/8
--> Lakukan beberapa pemotretan dengan speed bervariasi
5. Jika perlu gunakan manual fokus pada hyperfocal.
Beberapa hasil pemotretan bulan:
Karya: Anton Widodo (http://www.facebook.com/profile.php?id=1552854672)
Gear : Fuji FinePix S2500HD
Aperture Priority,
f : 5.6
Speed : 1/15 s
Iso : 100
Zoom : Fujinon Zoom Lens 18X Optical
Ex Bias : 0 step
Filter : No
Tripod : Yes
Oldig : croop
time : 26 Juli 2010, 20.45 WIT
Location : Entrop
Karya: Awan Wisudanto (http://www.facebook.com/profile.php?id=1552854672#!/awan.wisudanto)
Gear : Sony Alpha A200
Lens: Minolta 70-210 mm
Manual setting
f : 5.6
Speed : 1/160 s
Iso : 100
Ex Bias : 0 step
Filter : No
Tripod : No
Oldig : crop
time : 29 Juli 2010, 20.20 WIT
Location : Pekanbaru
Senin, 02 Agustus 2010
Kamera - Manfaat Image Stabilizer
Image Stabilizer merupakan salah satu fitur unggulan yang ditawarkan oleh kamera digital modern. Stabilisasi akan menghasilkan gambar yang lebih taja, karena adanya peralatan tambahan yang dapat meredam shake / getaran.
Setiap pabrikan memiliki nama yang berbeda untuk stabilizer ini, misalnya Nikon dengan VR (Vibration Reduction), Canon dengan IS (Image Stabilization), atau Sony dengan SSS (Super Steady Shoot). Secara teknis ada 2 cara untuk meredam getaran, yaitu:
(1) Stabilizer pada lensa (optik), diterapkan oleh Nikon, Canon, Panasonic
(2) Stabilizer yang dipasang pada sensor (body), diterapkan oleh Sony, Olympus, Pentax
Yang manapun sistem yang Anda pilih, keberadaan image stabilizer ini akan sangat bermanfaat karena efektif meredam getaran hingga 2 atau 3 f-stop lebih rendah. Contoh efektivitas redaman dapat dilihat pada gambar berikut ini
Atau untuk lebih jelasnya, saya crop pada bagian tulisan di tengah kipas:
Namun bukan berarti fitur ini dapat menggantikan tripod. Efektivitasnya berdasar pengamatan saya adalah 2-3 f-stop. Jadi jika Anda mampu memegang kamera tanpa getaran pada shutter speed 1/30 s tanpa image stabilizer, berarti dengan bantuan stabilizer Anda akan dapat memotret dengan tajam pada 1/15 atau 1/8 s. Namun jika menggunakan speed 1 s, tentu saja gambar akan tetap blur karena getaran.
Setiap pabrikan memiliki nama yang berbeda untuk stabilizer ini, misalnya Nikon dengan VR (Vibration Reduction), Canon dengan IS (Image Stabilization), atau Sony dengan SSS (Super Steady Shoot). Secara teknis ada 2 cara untuk meredam getaran, yaitu:
(1) Stabilizer pada lensa (optik), diterapkan oleh Nikon, Canon, Panasonic
(2) Stabilizer yang dipasang pada sensor (body), diterapkan oleh Sony, Olympus, Pentax
Yang manapun sistem yang Anda pilih, keberadaan image stabilizer ini akan sangat bermanfaat karena efektif meredam getaran hingga 2 atau 3 f-stop lebih rendah. Contoh efektivitas redaman dapat dilihat pada gambar berikut ini
Atau untuk lebih jelasnya, saya crop pada bagian tulisan di tengah kipas:
Namun bukan berarti fitur ini dapat menggantikan tripod. Efektivitasnya berdasar pengamatan saya adalah 2-3 f-stop. Jadi jika Anda mampu memegang kamera tanpa getaran pada shutter speed 1/30 s tanpa image stabilizer, berarti dengan bantuan stabilizer Anda akan dapat memotret dengan tajam pada 1/15 atau 1/8 s. Namun jika menggunakan speed 1 s, tentu saja gambar akan tetap blur karena getaran.
Langganan:
Postingan (Atom)























