Minggu, 09 Januari 2011
Prosumer Superzoom Masih Tetap Menarik
Paling tidak, ada 5 keunggulan dari kamera prosumer superzoom ini:
1. Range fokus lensa yang lebar, cocok dipakai di berbagai kesempatan
2. Bentuk yang ringkas
3. Bobot yang ringan
4. Keleluasaan setting (P, A, S, M dan Scene program)
5. Harga yang terjangkau
Sudah tentu tiada gading yang tak retak, semua produk mempunyai kelemahan. Sensor yang kecil akan memberi keterbatasan dalam kondisi cahaya yang kurang (lowlight) dan penggunaan ISO tinggi. Namun jika Anda penyuka fotografi makro, kamera prosumer superzoom ini sangat menguntungkan, silakan lihat artikel Close Up Macro Photography dan beberapa artikel tentang macro lainnya.
Perkembangan teknologi dan munculnya produk-produk baru membuat pilihan yang tertulis dalam artikel sebelumnya menjadi out-of-date . Jika Anda bermaksud membeli prosumer superzoom saat tulisan ini dibuat, beberapa pilihan di kisaran harga Rp 2.000.000 yang dapat dipertimbangkan adalah:
- Canon SX130 IS atau SX210IS
- Casio exilim EX-H5
- Fujifilm S1600, S1800, S1900, S2500, S2550, S2800
- Nikon L110, P8000, P9100
- Olympus SP600UZ
- Panasonic Lumix TZ7, FZ28
- Sony H55
Mungkin masih ada yang lain belum tertulis, tapi saya yakin alternatif pilihan yang sudah disebut di atas itu cukup membingungkan Anda untuk memilih salah satu yang paling cocok ...hehehe ...
Penekanannya, pilih yang paling cocok. Kenapa bukan yang terbaik?
Karena yang terbaik mungkin tidak tersedia di lokasi Anda. mungkin pula harganya tak terjangkau, dsb. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pilih kamera yang bergaransi resmi dan service point-nya mudah dijangkau dari lokasi Anda. Ini akan memudahkan Anda jika ada kesulitan atau masalah pada unit yang Anda beli.
Senin, 02 Agustus 2010
Kamera - Manfaat Image Stabilizer
Setiap pabrikan memiliki nama yang berbeda untuk stabilizer ini, misalnya Nikon dengan VR (Vibration Reduction), Canon dengan IS (Image Stabilization), atau Sony dengan SSS (Super Steady Shoot). Secara teknis ada 2 cara untuk meredam getaran, yaitu:
(1) Stabilizer pada lensa (optik), diterapkan oleh Nikon, Canon, Panasonic
(2) Stabilizer yang dipasang pada sensor (body), diterapkan oleh Sony, Olympus, Pentax
Yang manapun sistem yang Anda pilih, keberadaan image stabilizer ini akan sangat bermanfaat karena efektif meredam getaran hingga 2 atau 3 f-stop lebih rendah. Contoh efektivitas redaman dapat dilihat pada gambar berikut ini
Atau untuk lebih jelasnya, saya crop pada bagian tulisan di tengah kipas:
Namun bukan berarti fitur ini dapat menggantikan tripod. Efektivitasnya berdasar pengamatan saya adalah 2-3 f-stop. Jadi jika Anda mampu memegang kamera tanpa getaran pada shutter speed 1/30 s tanpa image stabilizer, berarti dengan bantuan stabilizer Anda akan dapat memotret dengan tajam pada 1/15 atau 1/8 s. Namun jika menggunakan speed 1 s, tentu saja gambar akan tetap blur karena getaran.
Minggu, 13 Juni 2010
Link Bermanfaat - Online Simulator
Berikut ini situs yang menarik untuk mempelajari kamera & aksesorisnya:
Photonhead - Camera Simulator
Di sini tersedia simulator untuk mempelajari pengaruh perbedaan setting:
Nikon Official Site
Di sini tersedia simulator untuk berbagai macam lensa. Walaupun ditujukan secara khusus untuk lensa-lensa Nikkor, namun dengan simulator ini Anda akan mengetahui apa pengaruh penggunaan lensa wide dan tele pada berbagai jarak fokus
Minggu, 31 Januari 2010
Tips - Memaksimalkan Kamera Poket
Ken Rockwell: "Your camera doesn't matter"
Masih banyak teman & pengunjung blog ini yang merasa 'kurang pede' karena yang digunakannya hanya kamera poket. Jadi saya buat catatan ini dengan mengutippernyataan Ken Rockwell di atas: "Tidak ada masalah, apapun jenis kamera yang Anda pakai"Anda berhak & bisa membuat foto yang bagus jika Anda mengerti apa yang ada pada kamera dan bagaimana memaksimalkannya. Secara singkat, ini yang harus Anda perhatikan:
- Gunakan ISO rendah
Sebaiknya gunakan ISo 100 atau 200. Batas maksimalnya adalah ISo 400. Di atas itu noise-nya naudzubillah
- Matikan digital zoom
Jika memang diperlukan resizing untuk mendapat gambar yang lebih besar, hasil resizing di Photoshop akan lebih bagus
- Gunakan program scene yang sesuai
Mungkin tidak tersedia Priority atau manual Setting di kamera Anda, jadi sesuaikan saja Program Scene-nya. Silakan melihat penjelasannya dalam catatan Program Scene
- Sesuaikan White Balance dengan cahaya yang tersedia
White balance yang tidak tepat akan menghasilkan tonal warna yang tidak sesuai dan kadang aneh. Silakan melihat catatan tentang White Balance untuk penjelasan lebih lanjut
- Gunakan mode macro pada obyek dekat
Mode ini ditandai dengan gambar bunga, biasanya memiliki tombol khusus, jadi manfaatkan saja. tanpa mode ini, obyek jarak dekat (kurang dari 50 cm) akan tampil blur
- Pastikan obyek mendapat cahaya yang cukup
Peran cahaya sangat penting karena Anda memakai ISO rendah. Jadi dapatkan cahaya seterang mungkin, jika perlu gunakan flash atau mini studio box - Potret sebanyak-banyaknya dan jangan ragu bertanya
Rabu, 27 Januari 2010
Kamera - Contoh Foto
Sebetulnya sih, gak perlu sampai begitu, karena kualitas masing-masing hampir sama. Tapi kalau memang mau membandingkan, silakan lihat ke link http://www.dpreview.com/gallery Photo Sample Gallery dan cari tipe kamera yang diinginkan.
Semoga bermanfaat.
Kamis, 21 Januari 2010
Tips – Memotret dengan Kamera Handphone (2)
Setelah Anda mengenali fitur-fitur yang ada pada kamera handphone akan lebih banyak kemungkinan untuk memperoleh fhasil yang bagus. Berikut adalah beberapa tips:
- Gunakan resolusi tertinggi
Biasanya kamera handphone memiliki resolusi yang lebih rendah daripada kamera digital. Sebaliknya, kompresi gambar pada kamera handphone lebih ketat daripada kamera digital. Oleh karena itu, untuk memperoleh detil yang bagus dari foto yang Anda ambil, selalu gunakan resolusi tertinggi. Konsekuensi dari pilihan ini adalah memory akan habis lebih cepat, jadi sering-seringlah mendownload foto dari handphone Anda.
- Gunakan ISO rendah
Penggunaan auto-ISO akan memungkinkan handphone memilih ISO tinggi. Efek dari ISO tinggi adalah banyaknya noise pada foto yang dihasilkan. Ini akan merusak detil dankualitas gambar secara keseluruhan, jadi pastikan Anda memakai ISO rendah saat memotret.
Hasil foto dengan mode portrait
- Sesuaikan arah datangnya cahaya
Kamera handphone tidakmemiliki metering sebaik kamera digital. Kekuatan flash pada kamera handphone jugaterbatas, jadi sebaiknya Anda yang menyesuaikan dengan arah datang cahaya. Cari lokasi yang memunginkan obyek memperoleh pencahayaan dari samping. Jangan sekali-sekali menentang arah datangnya cahaya (backlit), kecuali jika Anda memang bermaksud membuat foto siluet (silhouette)
- Sesuaikan scene mode
Karena tidak ada fasilitas pengaturan speed & apeture, maka maksimalkan scene program untuk hasil terbaik:
Ø Close up, untuk pemotretan obyek yang jaraknya kurang dari 60 cm
Ø Portrait, untuk pemotretan obyek tunggal atau terpusat pada jarak normal. Mode ini menggunakan aperture terbesar yang bisa dicapai oleh kamera handphone.
Ø Sport, untuk pemotretan pada obyek bergerak. Anda bisa menggunakan mode ini untuk ‘memaksa’ kamera menggunakan shutter speed tinggi.
Ø Landscape, untuk pemotretan dengan obyek yang jaraknya lebih dari 200 cm. Mode ini akan menggunakan aperture terkecil & shutter speed lebih lambat.
Ø Night scene jarang saya gunakan karena mode ini akan memilih ISO tinggi yang menyebabkan timbulnya noise. Saya lebih suka menggunakan portrait & timer untuk foto malam.
Hasil foto dengan mode close-up
- Jarak obyek 60-200 cm
Kamera handphone menggunakan sensor kecil dengan jarak lensa ke sensor yang pendek, jadi lensa kamera ini pun memiliki jarak fokus pendek. Efeknya, DoF akan lebar. Jarak maksimum ketajaman sesungguhnya (hiperfocaI) hanya 200 cm (2 m). Jadi untuk obyek-obyek yang memerlukan pemotretan detil sebaiknya tempatkan pada jarak 60 – 200 cm.
- Usahakan meredam shake
Karena kamera handphone sudah kita set untuk memotret pada ISO rendah, dengan sendirinya kamera akan cenderung menggunakan shutter speed lambat yang berkonsekuensi rawan goncangan. Untuk meredam getaran, beberapa cara bisa dilakukan:
Ø Letakkan kamera handphone di tempat yang kokoh
Ø Gunakan fasilitas timer
ISO rendah & shutter lambat memerlukan timer
- Jangan terburu-buru
Ini yang paling penting. Kamera handphone biasanya memiliki respon lebih lambat dari kamera digital, jadi JANGAN TERBURU-BURU. Bahkan ketika jari Anda menekan tombol shutter, sebaiknya jangan buru-buru diangkat karena dapat menyebabkan shake yang menimbulkan blur.
Semoga bermanfaat.
Minggu, 10 Januari 2010
Teknik - Bright Daylight Exposure
Pada masa penggunaan kamera analog yang menggunakan media film dan mengandalkan setting manual, BDE merupakan standar pemotretan yang harus diketahui oleh seorang fotografer. Pada masa itu, untuk memperoleh gambar yang bisa dilihat, film harus diproses lebih dulu di ruang gelap. apabila hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan, tentunya tidak mungkin untuk melakukan pemotretan ulang karena pada saat foto selesai dicetak, momennya telah lama berlalu. Oleh karena itu, fotografer harus mengerti betul setting pencahayaan pada kamera agar hasil yang diperoleh sesuai dengan harapan.
Ada 3 faktor yang dapat mengatur agar media (film ataupun sensor) memperoleh pencahayaan yang cukup saat pemotretan. Ketiga faktor itu adalah:
- ISO yaitu ukuran kepekaan media terhadap intensitas cahaya yang masuk. Pada masa penggunaan film, ISO ini ditentukan oleh jenis film yang digunakan, jadi fotografer tidak dapat lagi mengaturnya jika sudah memilih menggunakan film tertentu
- Shutter speed yaitu setting yang akan mengatur lamanya waktu terbukanya jendela cahaya
- Aperture yaitu setting yang akan mengatur lebar bukaan jendela cahaya
BDE digunakan sebagai patokan untuk memastikan bahwa media memperoleh pencahayaan yang cukup sehingga diperoleh foto yang cerah (bright), tajam (contrast) dan jernih (clear). Karena pada masa itu ISO ditentukan oleh jenis film, maka BDE pun harus didasarkan pada ISO. Patokannya, angka shutter speed harus sesuai dengan ISO. Jadi setting BDE memiliki alternatif sebagai berikut:
- ISO 100, shutter speed 125, aperture f.16
- ISO 200, shutter speed 250, aperture f.16
- ISO 400, shutter speed 500, aperture f.16
Pada kondisi lapangan dan setting ISO yang sama, mungkin dilakukan perubahan setting shutter speed, namun harus diimbangi dengan perubahan setting aperture pada arah yang berlawanan, misalnya setting berikut memiliki tingkat pencahayaan yang sama:
- ISO 100, shutter speed 125, aperture f.16
- ISO 100, shutter speed 250, aperture f.11
- ISO 100, shutter speed 500, aperture f.8
Kalau kondisi lapangan berbeda, misalnya langit mendung, pemotretan dilakukan di tempat yang dinaungi pepohonan, atau di dalam ruangan, maka fotografer harus peka untuk mengantisipasi perubahan keadaan tersebut. Pada masa lalu, untuk membantu para fotografer mengingat, setting yang dianjurkan untuk setiap perubahan keadaan dicantumkan pada kotak film. Bentuknya kira-kira seperti ini:
Klik pada tabel untuk melihat ukuran lebih besarPada saat ini, kemajuan teknologi digital telah sangat memudahkan fotografer untuk melakukan tugasnya. Mungkin ada di antara Anda yang suka memotret tetapi tidak pernah memperhatikan setting ISO, shutter speed dan aperture karena semuanya sudah diatur secara otomatis dalam kamera. :-)
Jadi, jika menggunakan kamera digital, apa perlunya mengetahui BDE?
yah, paling tidak kita bisa bersyukur bahwa kemajuan teknologi telah memberikan begitu banyak kemudahan untuk kita. Selain itu, siapa tau kita perlu untuk melakukan setting manual pada kondisi-kondisi yang 'tricky', BDE bisa membantu Anda.
semoga bermanfaat!
Selasa, 01 Desember 2009
Teknik - ISO
Kepekaan Sensor terhadap Cahaya
ISO adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan ukuran kepekaan film atau sensor terhadap cahaya. Semakin tinggi angka ISO, semakin kecil intensitas cahaya yang diperlukan untuk 'membakar' film. Perubahan angka ISO 2 kali lipat berarti intensitas cahaya yang dibutuhkan menjadi 1/2 nya.
Pada kamera analog yang menggunakan film, gambar dihasilkan oleh butiran peka cahaya (film grain) yang terbakar oleh tumbukan foton cahaya. ISO berkaitan langsung dengan jumlah & ukuran butiran peka cahaya (grain) pada lapisan Perak Bromida (AgBr) yang melapisi film. ISO yang lebih tinggi berarti ukuran grain yang lebih besar sehingga foto akan tampak lebih kasar.
Pada kamera digital, gambar dihasilkan oleh formasi pixel yang menyala akibat tumbuan foton cahaya pada sensor. Untuk menyalakan pixel ini diperlukan cahaya cengan intensitas (jumlah foton) tertentu. Ketika angka ISO dinaikkan, kamera akan memberikan sejumlah energi pada sensor, sehingga pixel akan menyala oleh tumbukan foton dengan intensitas yang lebih rendah. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar berikut:
ISO x, perlu 8 foton untuk menyalakan sensor yang ditenagai 2 satuan listrik

ISO 2x, perlu 4 foton untuk menyalakan sensor yang ditenagai 4 satuan listrik

Resiko dari peningkatan ISO adalah adanya pixel yang 'menyala' bukan oleh tumbukan foton cahaya, tetapi oleh energi listrik yang diberikan pada pixel tersebut atau oleh hamburan energi akibat tumbukan foton pada pixel di dekatnya. Inilah salah satu penyebab timbulnya noise pada ISO tinggi. Karena adanya hamburan energi ketika tumbukan foton ini, kamera poket yang bersensor kecil (berarti jarak antara pixel lebih rapat) lebih rentan noise daripada kamera DSLR yang bersensor besar (jarak antara pixel lebih renggang).
Untuk pemotretan dengan kamera poket, sebaiknya menggunakan ISO 100 pada siang hari yang cerah, ISO 200 ketika cahaya redup, dan sebaiknya tidak lebih dari ISO 400 dalam kondisi kurang cahaya. Penggunaan ISO di atas 400 akan menyebabkan noise yang berlebihan.
Pada kamera DSLR, penggunaaan ISO tinggi dapat dimaksimalkan sesuai keadaan.
Minggu, 29 November 2009
Kamera - Apresiasi untuk Samsung
Pemain baru yang Serius
Catatan ini dibuat karena foto-foto yang dihasilkan oleh jajaran kamera Samsung menarik perhatian saya. Koleksi fotonya, silakan lihat di Forum Kamera Digital: Samsung
Pada awal kemunculannya dulu, pemain baru dari Korea ini tak terlalu menarik buat saya. Produk-produknya yang berkisar pada kamera poket dengan harga terjangkau, sepetinya tak jauh berbeda dengan produk asal Cina. Sampai saya lihat Samsung GX-10, kamera DSLR 'kembaran' Pentax K-10D dengan harga sedikit lebih murah, namun tetap bisa menggunakan semua lensa di jajaran Pentax. Kemiripan GX-10 & K-10D bisa diibaratkan kemiripan antara Toyota Avanza - Daihatsu Xenia atau Toyota Rush - Daihatsu Terios :-)
Belakangan ini, saya lihat foto-foto dari kamera-kamera Samsung hasilnya bagus. Bahkan pada kelas poket yang paling murah pun kualitasnya cukup baik. Beberapa kali melihat hasil foto dari Samsung ES15 - kamera samsung dengan harga sedikit di atas 1 juta - yang diposting teman baru di Forum Kamera Digital, bisa disimpulkan bahwa pemain Korea ini SERIUS di semua jajaran produknya dan tidak mengecewakan.
Jadi untuk alternatif kamera poket dengan harga sejutaan yang saya post di catatan sebelumnya Kamera Kompak yang Ekonomis bisa ditambahkan lagi satu pilihan menarik Samsung ES-15
Sabtu, 28 November 2009
Teknik - Shutter Speed
Pintu Masuk Cahaya pada Kamera
Shutter adalah alat yang menutup jalan cahaya menuju sensor atau film. Pada kamera yang memiliki viewfinder optis tanpa live-view, shutter akan selalu menutup hingga tombol shutter ditekan saat kamera mengambil gambar. Namun pada kamera yang dilengkapi live-view, shutter selalu dalam kondisi terbuka, atau terdapat lubang kecil yang memungkinkan cahaya masuk ke sensor. Penempatan shutter ditunjukkan secara jelas dengan tanda panah berwarna merah pada konstruksi kamera Sinar berikut ini:

Shutter menentukan seberapa lama sensor (atau film) terekspose oleh cahaya. Pencahayaan yang terlalu singkat akan menghasilkan gambar yang gelap, sedangkan pencahayaan terlalu lama akan menyebabkan gambar washed out, kehilangan warna dan memutih. Lamanya pencahayaan ditandai dengan penyebut dari waktunya, kecuali jika diikuti tanda kutip ganda ("). Angka 400 berarti shutter terbuka 1/400 s, sedangkan angka 5" berarti shutter terbuka selama 5 detik.
Lamanya shutter terbuka harus diimbangi dengan lebar bukaan aperture. Perubahan aperture 1 stop harus diimbangi dengan perubahan 1 stop shutter pada arah yang berlawanan.
Minggu, 22 November 2009
Kamera - Keluarga Poket
Sesuaikan dengan Keperluan
Kamera digital poket atau digital compact camera merupakan tipe yang paling banyak diproduksi dan digunakan orang. Kamera-kamera ini menggunakan sensor berukuran kecil, antara 1/2.5 hingga 1/1.6 in, dan sudah memiliki sistem lensa yang terintegrasi. Ringkas, ringan & praktis.
Jika ditinjau lebih dalam, sebetulnya ada beberapa tipe kamera compact. Yang perlu dicatat, perbedaan kelas tidak berkaitan dengan perbedaan kualitas gambar yang dihasilkan. Semua kamera dirancang untuk dapat merekan dengan tajam pada berbagai jarak obyek.
Dalam pengamatan saya, kamera-kamera ini dapat dikelompokkan menjadi:
- Kamera poket point & shot
Kamera dari kelas ini memiliki mode pengaturan yang terbatas, biasanya hanya mengandalkan mode auto dan beberapa scene program. Nilai lebihnya adalah pada harga yang sangat terjangkau & kemudahan penggunaan.
Kamera-kamera di kelompok ini ini sangat praktis dan sudah mencukupi jika digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari, misalnya tamasya bersama keluarga, kegiatan anak-anak, dokumentasi kegiatan kantor, dan sebagainya.Yang termasuk dalam kelas ini, misalnya: Kodak C180, Canon A480, Nikon L19, Olympus FE-25, Sony S930, Fujifilm seri Z20. - Kamera poket mode lengkap
Dapat dikenali dengan adanya mode PASM pada dial utamanya. Kamera ini memungkinkan pengguna untuk melakukan eksperimen & eksplorasi lebih daripada sekendar membidik & menekan shutter. Fotografer bisa ikut menentukan, seperti apa foto yang ingin diperoleh dengan mengatur sendiri speed shutter, aperture, atau keduanya. Kamera yang termasuk tipe ini di antaranya: Canon S90, Canon G11, Panasonixc FX580, Samsung TL 320
- Kamera superzoom
Selain memiliki mode pengaturan yang lengkap, kamera ini memiliki lensa dengan zoom range besar, biasanya di atas 10x. dengan kelengkapan fitur & fasilitas zoom ini, fotografer bisa berkreasi dengan berbagai setting pemotretan. Kelas ini biasanya disebut prosuer atau bridge camera. Yang termasuk di dalamnya, misalnya Canon SX10 IS, Nikon P90, Kodak Z1093, Fuji S100 fs, Sony H20, Olympus SP565 UZ, Panasonic FZ28
- Kamera dengan disain khusus
Dirancang untuk memenuhi kebutuhan tertentu, kamera-kamera di kelas ini tidak cocok dimasukkan dalam kelas-kelas yang sudah disebut di atas karena adanya fitur unggulan yang tidak terdapat pada kamera lain. Misalnya:
- Kemampuan memotret di dalam air pada Olympus Mju 8000 dan Sanyo Xacti CA8
- Disain yang inovatif & fashionable pada Canon Ixus, samsung TL225 & Olympus Mju 6010
Masing-masing kamera memiliki kelebihannya sendiri dan sudah pasti berkorelasi dengan harga yang ditetapkan. Oleh karena itu, sesuaikan tipe yang akan dibeli dengan keperluan Anda.
Semoga bermanfaat.
Sabtu, 21 November 2009
Tips - Menghindari Shake
Teknik menghadapi Musuh para Fotografer
Catatan ini adalah terjemahan dari artikel oleh Natalie Norton yang diunggah di Digital Photography School. Dalam artikel inii diulas 6 teknik memegang kamera untuk menghindari goyangan pada kamera (camera shake) sehingga memungkinkan Anda memperoleh gambar yang tajam meskipun menggunakan shutter speed yang rendah.
Saya selalu bergerak dan bergoyang. Hal itu tetap saja terjadi ketika saya sedang membidik dengan kamera. Saya sering berputar-putar, menekuk tubuh, memanjat (ke kursi atau meja), atau melompat. Lebih dari itu, saya juga tidak memiliki lengan yang kuat.
Oleh karena itu saya selalu berusaha memilih memilih lensa dengan VR (Vibration Reduction) atau IS (Image Stabilizer). Meskipun harganya lebih mahal, tapi fitur IS (VR) itu sangat berguna. IS (VR) merupakan fitur yang layak dibeli oleh seorang fotografer profesional. Namun IS (VR) tidak dapat menyelesaikan semua masalah. Untuk pemotretan dengan shutter speed rendah, sebaiknya gunakan tripod.
Namun dalam berbagai kesempatan, momen menarik terjadi saat tidak tersedia tripod. Oleh karena itu tetap diperlukan teknik-teknik untuk mencegah terjadinya goyangan. Berikut ini saya berikan 6 tips untuk mengurangi getaran:
1. Merapatkan siku
Usahakan untuk selalu menarik & mera[atkan siku ke tubuh. Tarik nafas dan tahan saat menekan shutter. Teknik pengaturan napas ini akan sangat berpengaruh saat memotret menggunakan speed lambat dan bukaan aperture lebar. Untuk meningkatkan kestabilan, saya selalu merapatkan siku dan menempelkannya ke dada.

2. Jaga posisi pundak kiri ….
Saya biasa membidik menggunakan mata kanan. Namun tips yang saya peroleh dari Joe McNally dalam artikelnya “The Moment It Clicks” mengharuskan saya untuk menggunakan mata kiri sebelum benar-benar membidik. Ketika melakukan ini, secara otomatis pundak kiri terangkatdan saya bisa merasakan perubahannya hingga ke tulang rusuk. Untuk menambah kestabilan, tarik sikukanan hingga merapat ke dada. Teknik pernapasan tetap harus dilakukan: Tarik napas dan tahan saat menekan shutter.

3. Membentuk Tripod dengan Lutut
Kestabilan seperti sebuah tripod dapat diperoleh dengan meletakkan siku pada lutut pada posisi duduk di tanah. Pastikan siku yang satunya merapat ke tubuh untuk meningkatkan kestabilan.

4. Tiarap
Gambar di bawah ini menunjukkan posisi yang paling stabil dan teknik paling efektif untuk menghindari goyangan kamera. Masalahnya, sudut pandang yang diperoleh dari posisi ini mungkin tidaksesuai dengan yang diharapkan. Lensa harus ditopang sedemikian agar cukup memperoleh kemiringan. Pada gambar kiri, saya meletakkan tangan di bawah lensa untuk menjadi penopang. Jika kemiringan yang diperoleh masih belum cukup, saya akan mengepalkan tangan dan menjadikannya penopang lensa sebagaimana tampak di gambar sebelah kanan.

5. Memegang senapan mesin
Teknik seperti yang diilustrasikan dalam gambar berikut biasanya diistilahkan dengan memegang senapan mesin. Saya jarang sekali menggunakan teknik ini karena menurut saya aneh dan sulit untuk mempertahankannya lebih daripada satu atau dua detik. Namun mungkin saja teknik ini cocok untuk anda gunakan, jadi ... silakan mencoba.

6. Membuai
Dalam gambar berikut, saya menopang dan seakan-akan membuai lensa di antara pundak dan pergelangan tangan (bhs Inggris: cradle – red). Kestabilan tambahan diperoleh dengan mengatur keseimbangan antara siku dan lutut.

Demikian cara saya menghindari “The Shake” (saya menyebutnya begitu karena dalam pikiran saya, dia seperti monster jahat yang siap menghancurkan kesempurnaan gambar yang saya buat). Silakan berbagi teknik lain melalui bagian komentar di bawah .... . .
Natalie Norton adalah fotografer spesialis wedding & potret. Tinggal dan bekerja di Pantai Utara Oahu, Hawaii. Koleksi foto, tips & tutorialnya dapat dilihat di www.natalienortonphoto.com. Natalie juga bisa dihubungi via twitter di http://www.twitter.com/natalienorton.
semoga bermanfaat
Jumat, 20 November 2009
Aksesoris - Batere
Energi yang Menentukan Segalanya
Saya pernah memakai Nikon FM yang bisa memotret tanpa batere. Sistem mekanis yang sangat bagus & handal untuk dibawa bepergian ke mana pun. Waktu itu, kelangsungan misi pemotretan ditentukan oleh banyaknya cadangan amunisi berupa film. Tantangannya, fotografer harus bisa 'membayangkan' seperti apa gambar yang akan dihasilkan dari film yang sudah dicetak. Kesalahan setting bisa berakibat sangat fatal karena gambar baru bisa dicetak setelah kembali ke peradaban.
Pada kamera digital, sekeping memori card bisa menggantikan fungsi puluhan rol film. Kita juga dapat segera melihat hasil pemotretan segera setelah shutter dilepas. Masalahnya, semuanya proses itu memerlukan energi listrik yang bersumber dari batere.
Batere memang menjadi sangat penting dalam fotografi digital. Pilihannya pun beragam, mulai dari batere AA tipe Alkaline, batere AA rechargeable Ni-Cd atau Ni-MH, hingga batere dedicated (bawaan kamera) Ni-MH, Li-Ion, atau Li-Po.
Batere dedicated
Seperti biasa, masing-masing punya kelebihan. Banyak yang lebih menyukai batere dedicated, batere bawaan kamera berbentuk kotak yang bisa di-charge dengan cepat, mampu menyimpan energi dalam jangka waktu cukup panjang, dan berkapasitas besar. Kelemahannya, batere ini mahal. Sebuah batere orisinal biasanya dihargai Rp 300-400rb, atau bahkan mencapai Rp 700rb. Namun dengan cadangan energi & daya tahan yang besar, batere ini bisa bertahan seharian. Cadangan memang - mungkin - tidak diperlukan, khususnya jika sesi pemotretan dilakukan dalam studio atau dalam kota, sehingga tak ada kesulitan untuk me-recharge jika batere kehabisan energi.
Batere AA
Tapi saya melihat ada keunggulan dari batere AA. Tentunya bukan batere alkaline yang cuma 900-1100 mAh, tapi batere rechargeable Ni-MH yang tersedia dalam berbagai kapasitas daya, dari 700 mAh sampai 2700 mAh. Cadangan energi ini jelas lebih besar dari rata-rata batere dedicated yang berkisar 1000-1500 mAh. Jadi pendapat bahwa batere AA lebih 'boros' tidak berlaku umum.
Sepasang batere AA rechargeable 2500 mAh rata-rata dijual dengan harga Rp 100.000. Jauh lebih murah daripada batere dedicated. Masih ada keunggulan lain, yaitu kalau di tengah pemotretan batere kita kehabisan energi, akan mudah menggantinya dengan batere alkaline yang banyak tersedia di toko atau swalayan. Untuk satu sesi pemotretan, saya biasa meyiapkan 2 set batere rechargeable & 1 set batere alkaline baru. Just in case ... tapi jarang sekali batere alkaline itu terpakai.
Merk apa yang sebaiknya digunakan?
Merk yang menurut saya bagus: Energizer, Eneloop, Maha, Powerex. Uniross. Jaminan kualitas untuk Uniross, Maha, dan Eneloop bahkan dengan garansi.
Kriteria bagus ini dalam pengalaman saya berarti:
- Mampu memotret dalam jumlah frame yang banyak. Saya biasa menggunakan 1 set (4 batere) 2500 mAh untuk 1500-2000 frame dengan Fujifilm S6500 fd
- Masih menyimpan cadangan energi setelah disimpan selama seminggu
Batere bermerk GP & Krisbow, menurut saya lumayan. Kedua merk ini biasanya saya gunakan sebagai starter: batere yang terpasang pada kamera saat sesi dimulai. Pengaturan ini berkaitan dengan karakternya yang:
- Mampu memotret dalam jumlah frame yang banyak.
- Tidak memiliki cadangan energi setelah disimpan selama seminggu, jadi lebih baik menyimpannya dalam kondisi kosong & di-charge hanya jika keesokan harinya dipakai memotret secara intens
Batere Sony & Sanyo sebetulnya berkualitas bagus, namun sayangnya banyak barang palsu yang beredar di pasar. Untuk menghindari batere palsu ini, sebaiknya membeli di toko yang dapat dipercaya. Beberapa toko bersedia memberi jaminan tukar barang 3 hari jika ternyata batere yang kita beli itu palsu.
Charger
Barang ini tidak bisa dilepaskan dari batere rechargeable. Untuk batere dedicated, charger sudah disertakan bersama kamera. Namun untuk batere AA, pemilihan charger ini harus sangat diperhatikan. Banyak charger murah (Rp 30rb s.d 90rb) yang memiliki kapasitas arus sangat kecil. Charger ini tidak mungkin melayani pengisian batere di atas 1800 mAh.
Untuk memastikan pengisian berjalan dengan baik, pastikan untuk membeli charger dengan arus pengisian 500 mA atau lebih. Angka ini biasanya tertulis sebagai OUTPUT di bagian belakang charger. Lamanya waktu pengisian dapat dihitung dengan membagi kapasitas batere (2500 mAh) dengan arus pengisian (500 mA), sehingga:
2500 : 500 = 5 jam
Tersedia beberapa charger dengan fitur tambahan:
- Quick, charger berkapasitas arus di atas 500 mA
- Smart, charger dengan saklar otomatis yang akan memutuskan arus setelah batere penuh. Fitur ini dapat memperpanjang usia pakai batere
- Refresh, fitur yang akan menguras sisa energi dalam batere sebelum mengisinya kembali. Fitur ini mencegah batere drop sebelum waktunya
Semoga bermanfaat
Kamis, 19 November 2009
Kamera - Superzoom 2 Juta-an
Fitur yang Hampir Setara DSLR
Kamera-kamera Superzoom ini biasanya diistilahkan dengan prosumer atau bridge camera. Kriteria yang saya pilih dalam artikel kali ini adalah:
- Resolusi minimal 10 MP
- Range fokus minimal 10x zoom
- Kemampuan priority setting
- Ketersediaan fitur Image stabilizer
- Harga maksimal Rp 3.000.000
Dari kriteria tersebut di atas, saya mendapatkan alternatif:
- Canon SX120 IS, harga Rp 2.550.000
- Fujifilm S1500, harga Rp 2.150.000
- Fujifilm S2000 HD, harga Rp 2.650.000
- Nikon L100, harga Rp 2.650.000
- Panasonic FZ28, harga Rp 2.950.000
Agar tulisan ini tidak terlalu panjang dan memudahkan analisa, fitur-fitur yang sama baiknya tidak akan kita bahas, di antaranya:
- Resolusi maksimum (semuanya 10 MP)
- Tipe sensor (semuanya memakai CCD)
- Tipe batere (semua menggunakan AA, kecuali Panasonic FZ28)
- Exposure compensation (semuanya +- 2 EV)
- Kualitas gambar/ ketajaman
Selanjutnya perbandingan akan dilakukan per fitur dengan menyebutkan hanya peringkat pertama dan kedua saja untuk setiap fitur:
- Luas fisik sensor:Fujifilm S2000 HD, Fujifilm S1500 (walaupun hanya sedikit lebih besar dari yang lain)
- ISO tertinggi: Fujifilm S2000 HD, Nikon L100
- Zoom range: Panasonic FZ28, Nikon L100
- White balance override: Fujifilm S2000 HD, Fujifilm S1500
- Aperture range: Canon SX120 IS, Fujifilm S1500, Panasonic FZ28
- Shutter speed range: Panasonic FZ28, Canon SX 120 IS
- Continuous drive: Panasonic FZ28, Fujifilm S2000 HD
- Video capture: Panasonic FZ29, Fujifilm s2000HD
- LCD viewer: Canon SX120 IS, Nikon L100
Dapat kita lihat bahwa dari perbandingan di atas, Panasonic FZ28 dan Fujifilm S2000 HD sama-sama muncul 5 kali. Keduanya memang memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang lain. Harus diakui, keunggulan Panasonic FZ28 dengan kemampuan foto RAW dan zoom range agaknya sesuai untuk harganya yang lebih mahal daripada fujifilm S2000 HD.
Namun demikian masih ada pertimbangan-pertimbangan khusus yang menurut saya membedakan karakteristik tiap produsen kamera dan menjadikannya memiliki konsumen yang loyal:
- Canon adalah kamera yang paling populer. Kepopulerannya ini - selain kepiawaian tim marketing - agaknya berkaitan dengan pengoperasiannya yang user friendly
- Fujifilm merupakan kamera yang dikenal dengan kemampuannya untuk memotret dalam kondisi low-light, namun kedua kamera yang masuk dalam daftar di sini bukanlah tipe dengan sensor Super-CCD. Bagaimanapun, algoritma pengolahan warna Fujifilm yang natural masih tetap perlu dipertimbangkan
- Nikon dikenal dengan kemampuannya menampilkan warna-warna yang kontras - crispy - merupakan merk yang sudah sangat dikenal dalam dunia fotografi
- Panasonic, dengan menggandeng Leica untuk lensanya, tak tertandingi dalam ketajaman & kelengkapan fiturnya
Pilihan yang paling tepat, kembali lagi diserahkan kepada pemakai. Dengan harga yang hanya sedikit di atas Rp 2jt, mungkin saya akan pilih Fujifilm S1500 :-)
Kamera - Canon A2100 IS vs SX120 IS
Pilih Resolusi atau Kebebasan Explorasi?
Kedua kamera buatan Canon ini kisaran harganya sekitar Rp 2jt-an. Banyak yang menanyakan, kenapa SX120 IS yang cuma 10 MP lebih mahal daripada A2100 IS yang 12 MP?
Jawabannya: Karena harga tidak hanya ditentukan oleh resolusi saja
SX120 IS punya beberapa kelebihan dari A2100 IS, di antaranya:
- Jarak fokus terjauh (tele-end) setara 360 mm (= 10x zoom)
- Bukaan aperture maksimal lebih lebar (f/2.8)
- Shutter speed maksimum lebih cepat (1/2500s)
- Pilihan movie clip pada berbagai resolusi untuk menghemat storage
- Fasilitas white balance override
- Kemampuan manual focusing
- Fitur shutter speed & aperture priority
Singkatnya, SX120 IS dirancang untuk mengakomodasi hampir semua kebutuhan seorang fotografer. Perbedaan harga yang hampir Rp 500ribu menurut saya sangat wajar untuk berbagai kelebihan tersebut di atas. Hampir semua fitur EOS 1000D kit terdapat di kamera ini dengan harga hanya setengahnya, malah masih mendapat bonus zoom range 10x.
Tapi bukan berarti A2100 IS tak punya kelebihan.
- Resolusi yang lebih tinggi (12 MP)
- Luas fisik sensor yang sedikit lebih besar
- Kecerdasan autofokus 9 titik yang dilengkapi face detection
- Flash yang lebih kuat
- Dimensi yang lebih kompak
- Bobot yang lebih ringan
- Harga yang lebih bersahabat
Mana yang lebih baik? trasanya Anda pun tahu jawabannya
Mana yang sebaiknya dibeli? Well, andainya pertanyaan itu ditanyakan pada istri saya, pasti pilihannya adalah A2100 IS :-)
Rabu, 18 November 2009
Kamera - DSLR Entry Level Full Fitur
Entry Level dengan Fitur Lengkap
Dalam catatan ini kita membandingkan DSLR yang oleh produsennya dikategorikan entry level namun memiliki fitur yang lengkap, yaitu:
- Canon EOS 500D, 15 MP, CMOS sensor, rilis Maret 2009
- Nikon D5000, 12.3 MP, CMOS sensor, rilis April 2009
- Olympus E-620, 12.3 MP, NMOS sensor, rilis Februari 2008
- Pentax K200D, 10.2 MP, CCD sensor, rilis Januari 2008
- Sony A350/ A380, 14.4 MP, CCD sensor, rilis Januari 2008
Kamera-kamera ini tersedia dengan harga di kisaran Rp 8jt. Catatan yang diperoleh dengan membandingkan spesifikasi kamera-kamera ini dengan fitur Side by Side Comparation di www.dpreview.com adalah:
- Canon EOS 500D merupakan kamera dengan resolusi tertinggi (15 MP)
- Canon EOS 500D memiliki kemampuan ISO tertinggi hingga 12800, diikuti oleh Nikon D5000 dengan 6400
- Pentax K200D memiliki keunggulan dengan 11 point autofokus. Olympus E-620 memiliki teknologi agak berbeda dengan phase-difference
- Nikon D5000 unggul dalam white balance dengan 12 posisi alternatif ditambah metode kelvin. Canon EOS 500D dan Sony A350 hanya memiliki 6 alternatif
- Olympus E-620 memiliki range shutter speed paling leluasa dengan 1/4000 s.d 60s, yang lain hanya 1/4000 s.d 30s
- Olympus E-620 dan nikon D5000 memiliki rentang exposure compensation +- 5 EV, sedangkan yang lain hanya +- 2 EV
- Olympus E-620 unggul dalam metering dengan ESP multi pattern, highlight & shadow spot; diikuti oleh Nikon D5000 dengan 3D matrix dan Sony A-350 dengan 40 segmen
- Sony A-350 unggul dalam continuous speed (burst rate) hingga 4.5 fps, namun dalam jumlah frame masih dikalahkan oleh Canon EOS 500D yang mampu memotret 170 frame berurutan
- Canon EOS 500D dan Nikon D5000 memiliki kemampuan video capture namun Canon EOS 500D unggul dalam resolusi
- Olympus E-620 dan Sony A-350 kurang menguntungkan dalam hal pemakaian memory yang 'tidak umum'. Sony menggunakan CF atau Memory Stick Pro sedangkan Olympus menggunakan CF atau xD
- Canon EOS 500D memiliki LCD viewer paling luas dan resolusi paling tinggi
- Olympus E-620 merupakan kamera paling ringan & ringkas di kelas ini
- Olympus E-620 sudah dilengkapi dengan 2 lensa (14-42 mm) dan (42-150 mm) dengan harga Rp 8,3 juta
- Olympus E-620, Sony A-350 dan Pentax K200D sudah dilengkapi dengan image stabilizer pada sensornya
Seluruh kamera ini dijual dengan harga sekitar Rp 8 jt kecuali Pentax K200D yang Rp 7,4 juta. Dengan melihat reputasinya, saya pikir tidak perlu meragukan kualitas gambar yang dihasilkan oleh kamera-kamera ini (walaupun masih diengaruhi oleh lensa yang dipakai). Jadi jika Anda tidak memiliki preferensi terhadap merk tertentu, Anda bisa mempertimbangkan Canon EOS 500D untuk kelengkapan fiturnya atau memilih Olympus E-620 untuk kelengkapan 2 lensanya. :-)
Minggu, 15 November 2009
Kamera - Canon EOS 30D vs Canon EOS 1000D
Keunggulan yang Hanya Dua Tahun
Perbandingan antara kedua kamera ini menarik buat saya karena dengan jelas menunjukkan bahwa kecepatan perkembangan teknologi menyebabkan body DSLR tidak berumur panjang. Canon EOS 30D (rilis pertama 21 Februari 2006) adalah kamera DSLR yang ditujukan untuk kelas semi-pro sedangkan EOS 1000D (rilis pertama 10 Juni 2008)adalah kamera entry level dengan 'fitur terbatas' agar harga dapat ditekan.
Keduanya memiliki persamaan dalam hal:
- Menggunakan sensor APS-C dengan teknologi CMOS
- Lens mount yang kompatibel dengan lensa EF maupun EF-S
- Flash mode & hot-shoe untuk flash eksternal
- Exposure compensation dengan range +- 2 EV
- Priority dan manual setting
- LCD viewer berdiameter 2,5" dan resolusi 230.000 pixels
- Viewfinder optis
- Kemampuan timelapse recording
- RAW & JPEG capture
Ingin tahu fitur apa yang 'dipotong' pada EOS 1000D?
- Kemampuan auto focus 9 point pada 30D, direduksi menjadi 7 point pada EOS 1000D
- White balance override dengan metode Kelvin ditiadakan dari EOS 1000D
- Shutter speed range EOS 30D adalah 1/8000 s.d 30s, sementara pada EOS 1000D 'hanya' 1/4000 s.d 30s
- Continuous drive 5 fps pada EOS 30D dan hanya 3 fps pada EOS 1000D
- Kapasitas batere (1390 mAh pada EOS 30D dan 1050 mAh pada EOS 1000D)
Yang menarik, ada keunggulan dari EOS 1000D yang levelnya lebih rendah ini, yaitu:
- Resolusi maksimum 10 MP (EOS 30D hanya 8,2 MP)
- Flash internal yang lebih kuat
- Unlimited JPEG frame pada continuous drive (terbatas hingga 30 frame pada EOS 30D)
- Penggunaan memory card SD/SDHC (yang lebih murah & praktis daripada CF yang digunakan EOS 30D)
- Bobot yang lebih ringan
Untuk perbandingan lengkap side by side, silakan merujuk ke www.dpreview.com: EOS 30D vs EOS 1000D
Oh ya, EOS 30D masih memiliki kelebihan dalam harga jualnya (kondisi baru), yaitu USD 1489 sedangkan EOS 1000D yang baru 'hanya' dibandrol USD 569. Saat ini EOS 30D sudah berstatus discontinued, tampaknya sangat wajar: setelah melihat perbandingan di atas, siapa yang mau membeli kamera seharga USD 1569 kalau fiturnya sudah dilebihi oleh yang harganya USD 569?
Tips - Memilih kamera DSLR
Sistem yang Mempesona Para Fotografer
Pertimbangan dalam memilih sebuah kamera DLR bisa jadi sangat berbeda dengan memilih kamera poket. Perbedaan ini ditimbulkan oleh beberapa sebab, di antaranya:
- DSLR merupakan sebuah sistem yang dapat di-customize sesuai kebutuhan spesifik pemiliknya, sangat berbeda dengan poket yang sudah all in
- Perbedaan teknologi lensa, sensor, prosesor gambar dan operasional tombol-tombol pada setiap kamera yang pada akhirnya membedakan karakter hasil
- Hampir semua poket menggunakan sensor CCD berukuran 1/2.5" produk Sony, sedangkan DSLR memiliki banyak pilihan teknologi selain CCD, seperti:
- CMOS yang dikembangkan Canon (dan belakangan dipakai juga oleh Nikon)
- NMOS yang digunakan Olympus
- Full-frame, dipakai pada kamera kelas Pro
- APS-C, dipakai pada kamera entry level & semi-pro
- 4/3, dipakai oleh Olympus & Panasonic
- Ketersediaan aksesoris & perlengkapan selain body & lensa
Dalam hal ini, saya pikir Canon & Nikon mempunyai keunggulan karena - sebagai pemain lama yang memimpin pasar - tersedia banyak sekali aksesoris 3rd party - barang-barang yang dipro=oduksi bukan oleh produsen body - yang tersedia di pasar, misalnya:
- lensa: Sigma, Tamron dan Tokina
- Flash: Nissin dan Metz
- Battery grip: Jenis
Bukan berarti tidak ada kelebihan dari produsen merk lain. Beberapa catatan saya untuk merk lain adalah:
- Sony dapat menggunakan lensa Carl-Zeiss dan Minolta
- Olympus memiliki keunggulan dalam dynamic range dan saturasi warna selain teknologi-teknologi inovatifnya
- Pentax dapat menggunkan banyak lensa 'jadul' yang sudah terbukti ketajaman & kualitasnya
Namun pertimbangan untuk membeli DSLR tidak cukup sampai pada merk saja. Ada banyak kelas pada DSLR, dari entry level dengan sensor APS-C sampai kamera pro dengan sensor full-frame. Terlalu panjang rasanya jika dibahas dalam 1 tulisan. Yang perlu menjadi patokan adalah:
- Teknologi akan selalu berkembang. Body yang canggih saat ini, dalam beberapa tahun akan menjadi out of date, untuk mudahnya, silakan bandingkan fitur pada 2 kamera yang dirilis dengan selisih 'hanya' 2 tahun Canon EOS 1000D (budget entry-level, 2008) vs Canon EOS 30D (semipro, 2006, discontinued)
- Lensa memiliki usia lebih panjang daripada body
- Kemampuan fotografer dalam mengoperasikan alat, kepekaan menangkap momen dan kemampuan teknis adalah lebih penting daripada mengejar perkembangan teknologi
Kamera - DSLR Entry Level
Klasifikasi yang Kadang Menyesatkan
Entry level adalah istilah yang dipopulerkan oleh produsen kamera untuk DSLR ekonomis produksinya. Sebutan ini sama sekali tidak merujuk pada kualitas gambar yang dihasilkan oleh kamera-kamera di kelas ini. Pengoperasiannya pun tidak jauh berbeda dengan DSLR kelas semi pro. Jadi saya pikir istilah entry level ini bisa jadi menyesatkan, karena orang toh bisa saja langsung membeli DSLR kelas semipro atau pro tanpa harus melakukan pengenalan dengan DSLR di kelas entry level ini.
Perbedaan signifikan dari DSLR entry level dengan kelas-kelas di atasnya adalah pada kemampuan continuous shoot atau burst rate, range shutter speed, dan kualitas material body yang berkonsekuensi pada perbedaan bobot kamera.
Kamera DSLR entry level ini dalam pengamatan saya dibagi lagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
- Budget entry level DSLR dengan harga di kisaran Rp 5jt-an, misalnya:
- Canon EOS 1000D
- Nikon D3000
- Sony A200 dan A230
- Olympus E-420
- Full featured entry level DSLR dengan kisaran harga di sekitar Rp 8jt-an, seperti:
- Canon EOS 500D
- Nikon D5000
- Sony A350 dan A380
- Olympus E-520
Budget entry level DSLR
Dari segi kemampuan menghasilkan foto (gambar diam) kelas ini jelas tidak kalah dengan full-featured entry level DSLR. Bahkan jika dibandingkan dengan DSLR semi-pro dari era sebelumnya (misalnya Canon EOS 1000D vs Canon EOS 30D), kamera-kamera budget entry level ini masih punya keunggulan. Untuk perbandingan spesifikasi lengkap, silakan menengok di www.dpreview.com. Fitur yang tak tersedia pada budget entry-level, misalnya:
- tidak ada kamera di kelas ini yang mempunyai kemampuan video capture
- tak ada live-view pada Sony A200, A230, dan Olympus E-420
- Resolusi maksimum 10 MP
Catatan:
- Teknologi sensor yang digunakan pada kamera-kamera ini adalah:
- CMOS pada Canon EOS 1000D
- NMOS pada Olympus E-420
- CCD pada Sony A200, A230 dan Nikon D3000
- Olympus E-420 menggunakan sensor dengan luas 4/3 inch sedangkan kamera lain menggunakan sensor berukuran APS-C
- Olympus E-420 merupakan kamera paling ringan di kelas ini
- Sony A200 dan A230 sudah dilengkapi dengan teknologi Image Stabilizer pada sensornya
- Nikon D3000 dan Olympus E-420 memiliki kemampuan exposure compensation hingga +- 5 EV, sedangkan Sony A200, A230 dan Canon EOS 1000D hanya +- 2EV
- Canon EOS 1000D, Nikon D3000 dan Sony A230 menggunakan memory SD/SDHC, sedangkan Sony A200 dan Olympus E-420 menggunakan Compact Flash
- Nikon D3000 dengan layar 3 inch nya memiliki viewer paling lebar
Dari perbandingan di atas, untuk kelas budget entry level DSLR ini saya pikir Sony A230 merupakan pilihan yang terbaik. Adanya teknologi Image Stabilizer akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas foto yang dihasilkan. Penggunaan memory SD/SDHC memungkinkan penyimpanan file yang besar, harga yang lebih murah & mudah diperoleh.
Pembahasan full-featured entry level DSLR akan dilanjutkan pada posting berikutnya.
Kamera - Compact yang Ekonomis
Satu Juta untuk Resolusi 10 MP
Gambar diambil dari www.dpreview.com
Waktu menjadi berharga karena tak dapat diulang. Sebuah foto dapat menjadi pengingat bagi momen-momen yang penting. Walaupun sudah banyak handphone yang dilengkapi dengan kamera, tetapi kualitas gambar yang dihasilkan dari sebuah kamera digital secara umum masih lebih baik daripada yang dihasilkan oleh kamera handphone. Resolusinya pun lebih tinggi sehingga foto tampil lebih detil.Berita bagusnya, tersedia cukup banyak pilihan kamera digital poket yang dapat diperoleh dengan harga sedikit di atas sejuta Rupiah dengan resolusi hingga 10 MP:
- Canon A 480 - Rp 1.130.000
- Casio EX-Z29 - Rp 1.290.000
- Fujifilm A150 - Rp 1.150.000
- Kodak C180 - Rp 1.150.000
- Sony Cybershot S930 - Rp 1.200.000
Semua kamera di atas memiliki sensor berteknologi CCD dengan ukuran fisik yang hampir sama besar. Kualitas gambar dan fitur pun hampir sama, tinggal keyakinan pengguna terhadap merk yang akan menentukan. Beberapa catatan yang mungkin perlu dipertimbangkan:
- Canon A480 memiliki keunggulan dalam range shutter speed paling leluasa, yakni dari 1/2000 hingga 15 s. Ini dapat berguna untuk foto slow speed dalam kondisi low light
- Fujifilm A150 dan Kodak C180 memiliki kelebihan dalam kemampuan video capture karena dapat merekam dengan resolusi VGA (640x480) pada 30 fps sehingga gerakan tampak lebih halus
- Casio EX-Z29 adalah satu-satunya yang menggunakan batere recharge Lithium-Ion (saya pribadi lebih suka batere AA rechargeable)
- Sony Cybershot S930 menggunakan Memory Stick Pro
- Fujifilm A150 memiliki lensa dengan wide-end paling lebar, yaitu 35 mm
- Canon A480 memiliki lensa dengan tele-end paling jauh, yaitu 120 mm
Catatan
Masih ada beberapa tipe kamera dengan resolusi 8 atau 9 MP yang dibandrol kurang dari sejuta. Walaupun resolusi 8 MP sudah cukup untuk pencetakan seukuran A4, namun dengan selisih harga Rp 150.000 atau kurang, rasanya kamera 10 MP adalah pilihan yang lebih baik.
- Kembali ke Fotografi Dasar



