Tampilkan postingan dengan label ISO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISO. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Januari 2010

Tips - ISO dan Noise

Pilih setting ISO yang terbaik


Seperti biasa, untuk eksperimen ini saya gunakan benda-benda yang ada di atas meja kerja. Kamera yang digunakan: Fujifilm S6500fd, mode A dengan setting aperture f/5. Pengaturan White Balance diset pada fluorescent, flash off, jadi hanya mengandalkan lampu ruangan tanpa penerangan tambahan. Agar dapat memperoleh gambar yang tajam, pemotretan dilakukan dengan meletakkan kamera sejajar obyek dan menggunakan auto-timer 2s.
Ukuran fisik sensor CCD di kamera ini sedikit lebih besar daripada sensor kamera digital poket, jadi masih jauh lebih kecil daripada sensor APS-C pada kamera DSLR. Hasil pemotretan pada ISO tinggi juga mirip dengan hasil kamera digital poket. Silakan diperhatikan perbedaan antara foto menggunakan ISO 100 dengan foto menggunakan ISO 3200.

Foto keseluruhan obyek, ISO 100

Foto keseluruhan obyek, ISO 3200

Bisakah Anda melihat perbedaannya?
Supaya bisa membedakannya dengan teliti, mari kita lihat secara lebih detil. Foto-foto berikut merupakan sebagian kecil dari foto di atas pada perbesaran 100% dengan setting ISO secara berurutan dari 100, 200, 400, 800, 1600, hingga 3200.

Crop 100% ISO 100

Crop 100% ISO 200

Crop 100% ISO 400

Crop 100% ISO 800

Crop 100% ISO 1600

Crop 100% ISO 3200


Dari hasil crop 100%, penggunaan ISO 100 dan 200 memberikan hasil yang jernih. ISO 400 dan 800 sudah menunjukkan adanya noise, tapi masih dapat diterima & detil gambar masih tampak dengan jelas. Noise yang tampak nyata & mengganggu jelas terlihat pada ISO 1600 dan 3200. Detil gambar juga mulai rusak (perhatikan detil pada bulu mata dan ceceran air). Foto dengan setting ISO tinggi ini rasanya tidak mungkin dicetak dengan ukuran maksimal.
Masalahnya, kamera tidak mempertimbangkan masalah noise & rusaknya detil ini jika dibiarkan untuk mengatur dirinya sendiri. sebaiknya hindari penggunaan setting Auto atau Auto ISO, terutama jika Anda memotret di dalam ruangan atau dalam kondisi cahaya yang kurang.
Bagaimana dengan foto yang dihasilkan kamera Anda? Cobalah melakukan eksperimen yang serupa sehingga Anda mengetahui batas-batas kemampuan kamera yang Anda gunakan.
Semoga bermanfaat.

Minggu, 10 Januari 2010

Teknik - Bright Daylight Exposure

Bright Daylight Exposure atau BDE adalah istilah yang digunakan untuk melakukan setting manual pencahayaan pada pemotretan di luar ruangan pada siang hari dengan matahari bersinar cerah.
Pada masa penggunaan kamera analog yang menggunakan media film dan mengandalkan setting manual, BDE merupakan standar pemotretan yang harus diketahui oleh seorang fotografer. Pada masa itu, untuk memperoleh gambar yang bisa dilihat, film harus diproses lebih dulu di ruang gelap. apabila hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan, tentunya tidak mungkin untuk melakukan pemotretan ulang karena pada saat foto selesai dicetak, momennya telah lama berlalu. Oleh karena itu, fotografer harus mengerti betul setting pencahayaan pada kamera agar hasil yang diperoleh sesuai dengan harapan.
Ada 3 faktor yang dapat mengatur agar media (film ataupun sensor) memperoleh pencahayaan yang cukup saat pemotretan. Ketiga faktor itu adalah:
  1. ISO yaitu ukuran kepekaan media terhadap intensitas cahaya yang masuk. Pada masa penggunaan film, ISO ini ditentukan oleh jenis film yang digunakan, jadi fotografer tidak dapat lagi mengaturnya jika sudah memilih menggunakan film tertentu

  2. Shutter speed yaitu setting yang akan mengatur lamanya waktu terbukanya jendela cahaya

  3. Aperture yaitu setting yang akan mengatur lebar bukaan jendela cahaya

BDE digunakan sebagai patokan untuk memastikan bahwa media memperoleh pencahayaan yang cukup sehingga diperoleh foto yang cerah (bright), tajam (contrast) dan jernih (clear). Karena pada masa itu ISO ditentukan oleh jenis film, maka BDE pun harus didasarkan pada ISO. Patokannya, angka shutter speed harus sesuai dengan ISO. Jadi setting BDE memiliki alternatif sebagai berikut:
  • ISO 100, shutter speed 125, aperture f.16

  • ISO 200, shutter speed 250, aperture f.16

  • ISO 400, shutter speed 500, aperture f.16

Pada kondisi lapangan dan setting ISO yang sama, mungkin dilakukan perubahan setting shutter speed, namun harus diimbangi dengan perubahan setting aperture pada arah yang berlawanan, misalnya setting berikut memiliki tingkat pencahayaan yang sama:
  • ISO 100, shutter speed 125, aperture f.16

  • ISO 100, shutter speed 250, aperture f.11

  • ISO 100, shutter speed 500, aperture f.8

Kalau kondisi lapangan berbeda, misalnya langit mendung, pemotretan dilakukan di tempat yang dinaungi pepohonan, atau di dalam ruangan, maka fotografer harus peka untuk mengantisipasi perubahan keadaan tersebut. Pada masa lalu, untuk membantu para fotografer mengingat, setting yang dianjurkan untuk setiap perubahan keadaan dicantumkan pada kotak film. Bentuknya kira-kira seperti ini:
Klik pada tabel untuk melihat ukuran lebih besar
Pada saat ini, kemajuan teknologi digital telah sangat memudahkan fotografer untuk melakukan tugasnya. Mungkin ada di antara Anda yang suka memotret tetapi tidak pernah memperhatikan setting ISO, shutter speed dan aperture karena semuanya sudah diatur secara otomatis dalam kamera. :-)
Jadi, jika menggunakan kamera digital, apa perlunya mengetahui BDE?
yah, paling tidak kita bisa bersyukur bahwa kemajuan teknologi telah memberikan begitu banyak kemudahan untuk kita. Selain itu, siapa tau kita perlu untuk melakukan setting manual pada kondisi-kondisi yang 'tricky', BDE bisa membantu Anda.
semoga bermanfaat!

Selasa, 01 Desember 2009

Teknik - ISO

Kepekaan Sensor terhadap Cahaya


ISO adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan ukuran kepekaan film atau sensor terhadap cahaya. Semakin tinggi angka ISO, semakin kecil intensitas cahaya yang diperlukan untuk 'membakar' film. Perubahan angka ISO 2 kali lipat berarti intensitas cahaya yang dibutuhkan menjadi 1/2 nya.
Pada kamera analog yang menggunakan film, gambar dihasilkan oleh butiran peka cahaya (film grain) yang terbakar oleh tumbukan foton cahaya. ISO berkaitan langsung dengan jumlah & ukuran butiran peka cahaya (grain) pada lapisan Perak Bromida (AgBr) yang melapisi film. ISO yang lebih tinggi berarti ukuran grain yang lebih besar sehingga foto akan tampak lebih kasar.
Pada kamera digital, gambar dihasilkan oleh formasi pixel yang menyala akibat tumbuan foton cahaya pada sensor. Untuk menyalakan pixel ini diperlukan cahaya cengan intensitas (jumlah foton) tertentu. Ketika angka ISO dinaikkan, kamera akan memberikan sejumlah energi pada sensor, sehingga pixel akan menyala oleh tumbukan foton dengan intensitas yang lebih rendah. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar berikut:
ISO x, perlu 8 foton untuk menyalakan sensor yang ditenagai 2 satuan listrik
ISO 2x, perlu 4 foton untuk menyalakan sensor yang ditenagai 4 satuan listrik

Resiko dari peningkatan ISO adalah adanya pixel yang 'menyala' bukan oleh tumbukan foton cahaya, tetapi oleh energi listrik yang diberikan pada pixel tersebut atau oleh hamburan energi akibat tumbukan foton pada pixel di dekatnya. Inilah salah satu penyebab timbulnya noise pada ISO tinggi. Karena adanya hamburan energi ketika tumbukan foton ini, kamera poket yang bersensor kecil (berarti jarak antara pixel lebih rapat) lebih rentan noise daripada kamera DSLR yang bersensor besar (jarak antara pixel lebih renggang).
Untuk pemotretan dengan kamera poket, sebaiknya menggunakan ISO 100 pada siang hari yang cerah, ISO 200 ketika cahaya redup, dan sebaiknya tidak lebih dari ISO 400 dalam kondisi kurang cahaya. Penggunaan ISO di atas 400 akan menyebabkan noise yang berlebihan.
Pada kamera DSLR, penggunaaan ISO tinggi dapat dimaksimalkan sesuai keadaan.