Kamis, 10 Desember 2009

Tips - Point of Interest

Memastikan Pesan Tersampaikan dengan Tepat


Point of Interest adalah daya tarik utama yang ingin ditunjukkan dalam sebuah foto. Idealnya, hanya ada 1 (satu) POI dalam foto agar pesan yang ingin disampaikan melalui foto itu sampai pada pemirsa. Ada beberapa teknik untuk memastikan POI ini ditangkap oleh pemirsa:
  1. Fill The Frame

    Dengan obyek utama yang mengisi seluruh frame, sudah kelas bahwa tidak ada obyek lain yang memecahkan perhatian pemirsa. Untuk dapat memenuhi frame dengan obyek, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, misalnya

    • Bergerak mendekati obyek
    • Menggunakan lensa tele atau zoom
    • Cropping


  2. Depth of Field

    Dengan mengatur DoF sedemikian rupa, maka obyek utama akan tampak tajam sedangkan lingkungan sekitarnya menjadi blur. Dengan kondisi ini, maka seluruh perhatian akan tertuju pada obyek utama saja. Untuk memcapai DoF yang tipis, langkah yang dapat dilakukan adalah:

    • Set aperture dengan bukaan palung lebar (angka paling rendah)
    • Gunakan zoom terpanjang (tele-end)
    • Jarak background yang cukup jauh dari obyek
    • Menggerakkan kamera mengikuti gerakan obyek

  3. Posisi dan Komposisi

    Penempatan obyek dalam frame akan menentukan seberapa besar perhatian tertarik pada obyek atau bagian dari obyek. Posisi tengah adalah dominan. Atas lebih menarik dari bawah. Posisi pada 1/3 dan perpotongannya akan memberikan tekanan lebih. Misalnya penempatan garis mata model pada 1/3 atas frame.

    Selain itu, keseimbangan & warna juga turut menentukan. Warna terang lebih menarik daripada warna gelap. Warna kuning adalah yang paling menarik perhatian


  4. Garis dan Pola

    Dengan memanfaatkan garis dan pola yang konvergen menuju obyek utama, perhatian dapat digitring ke satu arah


  5. Framing

    Framing adalah pemanfaatan elemen atau obyek tertentu yang ada di sekitar obyek sebagai pembatas, sehingga seluruh perhatian terpusat pada obyek utama


  6. Editing

    Merupakan langkah terakhir jika foto sudah tersimpan dalam bentuk file di memory-card atau hard-disk. Banyak hal dapat dilakukan dalam editing untuk memastikan agar hanya 1(satu) POI dalam foto, misalnya:

    • Cropping, membuang bagian yang tidak penting sekaligus mengatur komposisi
    • Pengaturan cahaya dan warna, dengan menurunkan intensitas cahaya di sekitar obyek atau mengatur tonal warna
    • Blurring lingkungan di sekitar obyek, sehingga opbyek utama tampil lebih mencolok
    • Sharpening, menaikkan ketajaman obyek utama
    • Menghapus obyek lain yang berpotensi memecah perhatian

Selasa, 08 Desember 2009

Macromania - Bunga

Indah untuk Semua



Bunga dirancang untuk menarik perhatian serangga agar bisa membantu tanaman dalam penyerbukan, tapi ternyata keindahannya juga menarik untuk manusia. Memotret bunga, bisa dikatakan lebih mudah daripada memotret serangga karena bunga tidak akan terbang ke mana-mana. Jadi fotografer tidak perlu bersusah payah bergerak ke sana ke mari seperti mengikuti serangga. Namun begitu, ada kemungkinan mendapat bonus foto serangga ketika dia hinggap di bunga yang sedang kita bidik. Tetap ada hal-hal yang bisa disampaikan untuk memperindah foto sekuntum bunga.

Yang sebaiknya dilakukan:

  1. Penuhi ruang gambar

    Ini bisa ditempuh dengan memotret dari jarak dekat, atau melakukan crop ketat saat editing. Tujuannya agar hanya ada 1 (satu) daya tarik dalam foto bunga itu. Sebenarnya tak ada salahnya menampilkan latar belakang selama tidak ada obyek lain yang menjadi pemecah perhatian


  2. Setting mode pemotretan ke makro

    Ini akan memastikan bunga yang Anda foto berada dalam fokus yang tajam walaupun dipotret dari jarak dekat


  3. Mendapat cahaya yang rata

    Tujuannya agar detil pada seluruh bagian bunga terekam dengan baik. Untuk memperoleh cahaya yang rata, pemotretn sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Jika pemotretan dilakukan pada siang hari, sebaiknya gunakan reflektor untuk memperoleh cahaya yang rata. Kondisi mendung dapat menguntunngkan karena dalam kondisi ini cahaya akan merata. Namun kondisi mendung sering mengakibatkan white-balance tidak sempurna dan menghasilkan foto yang 'dingin' karena warna tidak tampil dengan maksimal.


  4. Gunakan diffuser jika menggunakan flash

    Penggunaan flash pada jarak yang terlalu dekat menyebabkan cahaya yang terlalu kuat (harsh) dan berppotensi memudarkan warna akibat over-exposure. Oleh sebab itu sebaiknya menggunakan diffuser untuk meredam flash. Diffuser ini dapat dibuat sendiri dengan biaya sangat terjangkau


Semoga bermanfaat

Senin, 07 Desember 2009

Tips - Foto yang Bagus

Berbicara dengan Bahasa Gambar



Ada yang bertanya,"Kriteria foto yang bagus itu seperti apa sih?"

Well, saya sebetulnya agak bingung juga menjawabnya. Soalnya ada banyak sekali kategori dalam fotografi & kondisinya bisa berbeda-beda. Foto yang bagus belum tentu indah. Anak korban kelaparan di Ethiopia jelas bukan pemandangan yang indah, tapi toh banyak yang bilang fotonya bagus. Secara umum, mungkin bisa dikatakan bahwa foto yang bagus adalah jika "pemirsa menangkap makna yang ingin diabadikan oleh fotografer lewat fotonya"

Kalau mau agak panjang sedikit, kita coba lihat dari elemen-elemennya:
  • Pencahayaan

    Cahaya - termasuk white balance - harus sesuai dengan efek yang ingin ditimbulkan. Ada yang ingin menimbulkan kesan horror/ spooky, jadi tentunya cahaya juga dibuat remang-remang

  • Komposisi

    Ele,em-elemen dalam foto harus saling mendukung sehingga menimbulkan kesan yang sesuai dan membawa pesan yang ingin disampaikan

  • Kejelasan

    Bisa juga disebut kesederhanaan. Pemirsa dapat menangkap dengan jelas apa yang ingin disampaikan oleh fotografer. Caranya dengan menunjukkan yang mana POI (Pount of Interest) dan mana elemen pendukungnya.

  • Keunikan

    Banyak obyek yang pada dasarnya menarik dan sering diabadikan, misalnya monumen, bangunan, model yang cantik, atau landscape. Untuk itu, setiap fotografer harus bisa menemukan sesuatu yang unik agar berbeda dengan karya lainnya

  • Cerita

    Jika yang diabadikan bukan obyek tunggal, harus jelas kisah yang ingin disampaikan melalui foto

  • Momen

    Banyak foto yang berharga sebetulnya tidak terlalu bagus dalam hal teknis, namun mengabadikan momen penting yang tak terulang. Misalnya foto tsunami atau WTC 9/11. Jadi penting bagi para fotografer untuk membawa kamera ke mana pun :-)


Semoga bermanfaat.

Minggu, 06 Desember 2009

Tips - Memotret Benda Gelap

Obyek yang membingungkan kamera



Memotret benda gelap - contohnya tutup lensa di atas itu - dapat menjadi hal yang sulit. Mungkin akan diperoleh gambar yang blur akibat shake karena shutter speed yang terlalu lambat. Atau mungkin juga lensa kamera terus menerus bergerak maju mundur & tak berhasil mendapatkan fokus. Kalau pernah mengalami kejadian ini, itu disebabkan oleh kurangnya pantulan cahaya dari benda yang berwarna gelap.
Kamera memerlukan pantulan cahaya yang cukup untuk melakukan focusing dan metering. Focusing dilakukan ketika shutter ditekan setengah, motor dalam kamera kan menggerakkan lensa maju mundur sehingga diperoleh nilai maksimum intensitas cahaya pada sensor. Setelah focus diperoleh, kamera akan mengkalkulasi setting aperture & shutter speed berdasarkan intensitas cahaya yang masuk.
Benda gelap hanya memantulkan sedikit cahaya, akibatnya sensor 'tidak merasakan' perubahan intensitas saat lensa digerakkan. Seandainya fokus berhasil ditemukan, intensitas pantulan cahaya yang rendah akan menyababkan sensor mengatus shutter speed sangat lambat, terkadang lebih daripada 1 detik.
Untuk mengatasi permasalahan ini, ada beberapa cara yang dapat ditempuh:
  1. Menggunakan setting manual
    • Cari obyek lain yang berwarna terang & jaraknya sama dengan obyek yang akan difoto
    • Pasang exposure mode ke P, dan lakukan focusing sampai muncul angka exposure settingnya
    • Pindahkan exposure mode ke M & atur setting sesuai yang diperoleh sebelumnya
    • Ubah posisi focus ke manual
    • Ambil beberapa foto dengan angle berbeda
  2. Jika tidak terdapat setting manual. namun tersedia AE-lock dan AF-lock
    • Letakkan obyek berwarna terang di jarak yang sejajar dengn obyek
    • Pasang AF & AE-lock
    • Lakukan focusing & metering ke obyek kedua
    • Arahkan kamera ke obyek benda gelap
    • Ambil foto dengan setting AF & AE beberapa kali dengan scene program berbeda untuk memilih yang terbaik nanti
  3. Jika tidak terdapat setting manual dan tidak ada AF-lock/ AE-lock
    • Letakkan obyek berwarna terang di jarak yang sejajar dengn obyek
    • Lakukan focusing & metering ke obyek kedua
    • Tahan shutter dengan menekan setengah setelah metering diperoleh
    • Arahkan kamera ke obyek benda gelap
    • Ambil foto beberapa kali dengan scene program berbeda untuk memilih yang terbaik nanti

Semoga bermanfaat

Sabtu, 05 Desember 2009

Tips - Night Shot

Memastikan Hasil sesuai Keinginan



Foto malam dengan cahaya lampu yang bersinar seperti bintang & goresan cahaya dari mobil yang bergerak selalu menarik untuk dinikmati. Beberapa kamera sudah dilengkapi dengan mode malam hari (Night Mode), tapi terkadang mode foto malam ini tidak memberikan hasil sesuai harapan. Beberapa sebab hasil yang tidak sesuai harapan:
  • Mode malam mengubah setting ISO menjadi lebih tinggi, sehingga mengakibatkan banyak noise
  • Mengatur bukaan aperture lebar, sehingga DoF menjadi sempit dan pendar cahaya lampu menjadi lingkaran
  • Shutter speed kurang lambat, sehingga goresan cahaya lampu mobil kurang panjang

Dengan pertimbangan di atas, untuk mendapat foto malam terbaik, biasanya saya menggunakan setting manual. Berapa setting yang paling tepat, sangat tergantung pada kondisi setempat. Jadi sebaiknya lakukan beberapa kali shot sebagai bahan evaluasi. Urutan setting yang biasa saya lakukan adalah:
  • Setting ISO pada 100 atau 200 - tujuannya untuk menekan noise
  • Setting aperture pada f/8 atau lebih - untuk memperoleh DOF jauh dan menampilkan star-effect pada pendar cahaya lampu
  • Sesuaikan speed berdasarkan pre-shot - biasanya saya mulai dengan 2 s, lalu diperlambat sesuai kebutuhan

Cara lain yang mungkin dilakukan adalah menggunakan mode P, ambil sekali pemotretan, lalu perhatikan setting yang diperoleh kamera. Setelah itu baru dipindahkan ke M dan menyesuaikan shutter speed dengan prinsip perubahan 1 stop aperture harus dikompensasi dengan perubahan 1 stop shutter ke arah berlawanan.
Tips lain yang mungkin bermanfaat:
  • Usahakan mendapatkan blue-hour, sekitar 15-20 menit menjelang Maghrib
  • Sebaiknya gunakan tripod atau letakkan kamera di tempat yang kokoh
  • Gunakan auto-timer untuk mencegah shake saat shutter ditekan
  • Jika ada manusia ditampilkan di latar depan, gunakan slow-sync flash

Semoga bermanfaat

Kamis, 03 Desember 2009

Tips - memilih Lensa (2)

Menyesuaikan 'Mata" dengan Keperluan



Catatan ini merupakan lanjutan dari catatan saya sebelumnya tentang Memilih Lensa, ditujukan untuk para pengguna DSLR pemula (karena pengguna poket atau superzoom tidak akan dipusingkan oleh penggantian lensa, begitu pula dengan para pengguna DSLR yang sudah berpengalaman). Pemilihan lensa harus disesuaikan dengan kategori foto yang kita kehendaki. Kategori ini bisa didasarkan pada:
  • Foto yang paling sering kita ambil, atau
  • Tuntutan pekerjaan

Dari pemahaman mengenai kategori foto ini, kita dapat menentukan kriteria dari lensa yang kita perlukan. Supaya lebih mudah dimengerti, contohnya sebagai berikut:
  • Paparazzi dan wartawan olahraga sering mengambil foto dari jarak jauh dan perlu kecepatan respon agar tidak ketinggalan momen, jadi perlu lensa tele dengan fokus jauh (di atas 200 mm) yang dilengkapi image stabilizer & motor ultrasonik
  • Foto produk dalam studio dengan penerangan terbatas, perlu lensa dengan jarak fokus pendek (antara 18 sampai 50 mm), bisa memotret dari jarak dekat (makro) dan aperture lebar
  • Foto panggung/ show memerlukan lensa yang mampu memotret dalam kondisi low-light (aperture lebar/ fast lens), respon cepat (motor ultrasonik atau sejenisnya), dan fokus jauh (200 mm atau lebih)
  • Untuk foto jurnalistik, travelling, human interest, yang diperlukan adalah fleksibilitas & kejelian menangkap momen. Lensa vario dengan range lebar (sapujagad) dan bobotyang ringan paling cocok untuk memenuhi keperluan ini, misalnya 18-135 mm atau 18-200 mm

Setelah mengetahui kriteria lensa yang kita perlukan, barulah kita dapat mencari lensa yang sesuai dengan keperluan & anggaran.

Selasa, 01 Desember 2009

Teknik - ISO

Kepekaan Sensor terhadap Cahaya


ISO adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan ukuran kepekaan film atau sensor terhadap cahaya. Semakin tinggi angka ISO, semakin kecil intensitas cahaya yang diperlukan untuk 'membakar' film. Perubahan angka ISO 2 kali lipat berarti intensitas cahaya yang dibutuhkan menjadi 1/2 nya.
Pada kamera analog yang menggunakan film, gambar dihasilkan oleh butiran peka cahaya (film grain) yang terbakar oleh tumbukan foton cahaya. ISO berkaitan langsung dengan jumlah & ukuran butiran peka cahaya (grain) pada lapisan Perak Bromida (AgBr) yang melapisi film. ISO yang lebih tinggi berarti ukuran grain yang lebih besar sehingga foto akan tampak lebih kasar.
Pada kamera digital, gambar dihasilkan oleh formasi pixel yang menyala akibat tumbuan foton cahaya pada sensor. Untuk menyalakan pixel ini diperlukan cahaya cengan intensitas (jumlah foton) tertentu. Ketika angka ISO dinaikkan, kamera akan memberikan sejumlah energi pada sensor, sehingga pixel akan menyala oleh tumbukan foton dengan intensitas yang lebih rendah. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar berikut:
ISO x, perlu 8 foton untuk menyalakan sensor yang ditenagai 2 satuan listrik
ISO 2x, perlu 4 foton untuk menyalakan sensor yang ditenagai 4 satuan listrik

Resiko dari peningkatan ISO adalah adanya pixel yang 'menyala' bukan oleh tumbukan foton cahaya, tetapi oleh energi listrik yang diberikan pada pixel tersebut atau oleh hamburan energi akibat tumbukan foton pada pixel di dekatnya. Inilah salah satu penyebab timbulnya noise pada ISO tinggi. Karena adanya hamburan energi ketika tumbukan foton ini, kamera poket yang bersensor kecil (berarti jarak antara pixel lebih rapat) lebih rentan noise daripada kamera DSLR yang bersensor besar (jarak antara pixel lebih renggang).
Untuk pemotretan dengan kamera poket, sebaiknya menggunakan ISO 100 pada siang hari yang cerah, ISO 200 ketika cahaya redup, dan sebaiknya tidak lebih dari ISO 400 dalam kondisi kurang cahaya. Penggunaan ISO di atas 400 akan menyebabkan noise yang berlebihan.
Pada kamera DSLR, penggunaaan ISO tinggi dapat dimaksimalkan sesuai keadaan.