Rabu, 11 November 2009

Rekayasa Foto - Teknik HDR

Usaha Menampilkan Nuansa Lengkap


klik gambar untuk menampilkan ukuran besar
Kemampuan sensor kamera menangkap cahaya ternyata tidak secanggih mata manusia. Dalam foto sering kita lihat bagian-bagian yang terlalu gelap atau terlalu terang.
Teknik High Dynamic Range (HDR) adalah usaha untuk menampilkan semua detil dengan menggabungkan 3 atau lebih foto suatu obyek dengan kompensasi (EV) yang berbeda.
Foto di atas, sebetulnya adalah gabungan dari 3 foto "tidak sempurna" berikut ini:
klik gambar untuk menampilkan ukuran besar


Untuk menghasilkan sebuah gambar dengan detil & nuansa lengkap, proses penting dalam pengerjaannya adalah tone mapping, mencocokkan warna yang diproduksi dengan apa yang dilihat mata. Proses tone-mapping ini dapat dilakukan dengan berbagai software pengolah gambar seperti Photomatix Pro, Photoshop, ataupun Dynamic HDR Pro.

Lebih detil mengenai prosesnya, silakan lihat catatan saya mengenai HDR Photography

Macromania - Diffuser

Memburu Cahaya Yang Lembut & Rata



Salah satu permasalahan yang harus diatasi dalam foto makro adalah bagaimana memperoleh cahaya yang tepat. Penggunaan cahaya alami sering tidak memungkinkan karena obyek tertutup oleh bayangan pemotret. Obyek yang selalu bergerak seperti serangga juga memerlukan shutter speed cukup tinggi agar diperoleh foto yang tajam. Namun penggunaan cahaya flash dalam kondisi normal akan menimbulkan pantulan yang 'keras' karena jarak obyek terlalu dekat.

Pemecahan dari masalah pencahayaan ini adalah dengan menggunakan 'peredam cahaya' yang dikenal dengan nama diffuser. Kabar baiknya, diffuser ini dapat Anda buat sendiri dengan biaya sangat terjangkau, tak sampai Rp 50.000. Hanya diperlukan sedikit kerajinan tangan (seperti pelajaran prakarya di SD dulu) dan kerapihan.

Untuk panduan lengkap membuat diffuser, silakan menengok catatan saya Homemade Diffuser atau thread yang dibuat sahabat saya Mas Mardi di forum kamera-digital.com dengan topik MardiBounce - 25 ribu perak dapat banyak

Macromania - Perlengkapan Pemotretan

Reversed Lens


Fotografi makro merupakan bidang yang menarik karena obyeknya bisa berupa apa saja yang ada di sekitar kita. Benda-benda yang biasa kita lihat namun difoto dari jarak super close up tentu menjadi pemandangan yang tidak biasa dan menjadi sesuatu yang menarik. Seperti tenunan pada tas ransel saya di foto berikut:


Foto di atas dibuat dengan menggunakan reversed lens. lensa 50mm f/1.8 yang dipasang terbalik pada body atau di depan lensa standar.Agak blur karena foto semacam itu memang sangat rentan terhadap gerakan & getaran.

Bagaimana cara membuat, memasang & menggunakan reversed lens, silakan tengok catatan saya tentang Motret Makro

Rekayasa Foto - Pseudo Infra Red

Foto IR tanpa Oprek Body


Foto Infra red seperti hasil jepretan sahabat saya Roi Rungkadi Ismail di bawah ini menjadi menarik karena false color yang diakibatkan oleh perubahan pada sistem pengolahan warna dalam kamera.


Cara 'standar' untuk memperoleh foto seperti di atas adalah dengan melakukan salah satu cara di bawah ini:
  1. Oprek body

  2. Sebuah kamera normal diubah sistem pengaturan cahaya dalam body-nya sehingga kamera memproses warna secara 'salah'. Cara ini memiliki konsekuensi biaya tinggi karena kita harus 'mengorbankan' satu body kamera sebagai kamera IR

  3. Menambahkan filter Infrared

  4. Sebuah filter yang dipasang pada lensa akan menahan semua frekuensi cahaya kecuali frekuensi infra merah. Cara ini menyebabkan intensitas cahaya yang masuk ke sensor sangat rendah sehingga kamera hanya berfungsi pada shutter speed sangat lambat (1 sekon atau lebih lambat)


Namun dengan kemajuan teknologi olah digital, ada trik yang dapat dilakukan untuk memperoleh foto dengan nuansa infrared. Foto hasil olahan perangkat lunak ini disebut Pseudo-IR

Bagaimana langkah-langkahnya, silakan tengok dalam catatan saya Pseudo IR dengan Photoshop

Photo Session - Still Life (Indoor)

Strawberry Splash


Hmmmm ..... segarrrr .....


Bagaimana cara membuat foto seperti ini?
Silakan lihat detilnya di Still Life - Strawberry

Tips - Blue Hour yang cuma 15 Menit

Timing is Important!


Blue Hour adalah istilah yang digunakan oleh para fotografer untuk merujuk waktu senja ketika langit masih nampak biru namun lampu-lampu sudah mulai dinyalakan. Kombinasi antara langit biru dan pendar lampu dapat menjadi daya tarik yang sangat kuat dalam foto yang kita buat.

Masalahnya, walaupun dikenal dengan nama Blue Hour, tapi durasi kejadiannya di Indonesia tidak lebih dari 30 menit. Di banyak wilayah, termasuk Jakarta, bandung dan sekitarnya Blue Hour ini hanya dapat dinikmati sekitar 15 menit. Lebih repot lagi, waktunya hampir bertepatan dengan waktu Adzan Maghrib, yaitu sekitar pukul 18.00-18.15.

Perbedaan waktu yang cuma 15 menit itu dapat disaksikan dalam foto Pasar kosambi bandung berikut ini juga:

ISO 200 f/8.0 1.6s time: 18.33


ISO 200 f/2.8 1/4s time 18.05


Perhatikan bahwa pada foto pertama langit sudah tampak gelap & hitam sedangkan pada foto kedua masih ada warna biru di langit yang memberi nuansa cerah.
Jadi, aturlah jadwal memotret sebaik-baiknya untuk memperoleh cahaya terbaik.

Selasa, 10 November 2009

Komposisi - Keseimbangan dalam Foto

Indah itu ada Aturannya


Paid Review Indonesia
Komposisi merupakan salah satu ukuran keindahan sebuah foto. Peletakan elemen-elemen gambar, keseimbangan & kesesuaian antara obyek utama & latar belakang, tonal warna, highlight & shadow akan mempengaruhi komposisi ini.
Secara umum ada dua macam komposisi:

  1. Komposisi seimbang statis, dengan obyek utama terletak di tengah-tegah (dead-center), atau dengan membagi ‘berat’ secara imbang antara kanan & kiri, atas & bawah.


  2. Komposisi seimbangan dinamis, dengan patokan umum dikenal dengan ‘aturan 1/3’ (Rule of Third), yaitu peletakan obyek pada 1/3 ruang gambar. Dengan penataan ini foto menjadi lebih dinamis & tidak kaku


Peraturan ini hanya sebagai pegangan saja, beberapa foto tampak bagus & berseni justru karena break the rules’.